Rasanya udah lama banget gak menulis di blog. Beragam kegiatan menuntut fokus tinggi, mau gak mau aku harus berhenti nulis sementara waktu. Akhir tahun sampai awal 2021 ini, aku sedang fokus mengembangkan usaha baju anak. Alhamdulillah, seolah menemukan kesenangan lain, aku malah tenggelam belajar banyak ilmu bisnis. Bukan berarti aku ‘selingkuh’ dari menulis sih. Cuma ingin menyegarkan diri dari rutinitas aja. Alhasil, blog ini jadi tak terurus. Maafkan, hehe..

Untuk mengembalikan semangat nge-blog, inilah tulisan perdana setelah berhibernasi kemarin. Sebuah catatan yang aku temukan sebulanan ini.

Belajar dari Kematian

Dari judulnya, horror banget ya. Sebetulnya, aku hanya ingin memaknai kematian dalam sebuah tulisan. Setiap kabar kematian seseorang itu terdengar, aku sering dibuat bengong dan terkejut. Kemudian, pikiran tentang kematian melintas wara-wiri di otak.

Awal tahun banyak sekali kabar kejutan yang aku dapat. Sayangnya, kejutan itu bukan hal menyenangkan untuk didengar. Ya, kejutan berupa kematian menjadi hal menyakitkan yang harus dirasakan oleh kita. Bagaimana tidak, kebersamaan kita dengan orang yang kita sayang harus berakhir. Terpisah oleh kematian. Sedih luar biasa pasti akan dirasakan oleh mereka yang ditinggalkan.

Kepergian ulama favorit yakni Syekh Ali Jaber, adalah salah satu kejadian sedih yang dialami tidak hanya oleh aku pribadi. Melainkan seluruh umat islam Indonesia. Begitu mendadak, tidak disangka, dan sangat cepat. Tayangan kenangan tentang syekh yang diputar di siaran nasional selalu berhasil membuat aku sedih. Kehilangan panutan yang selalu berbagi energi kebaikan, fokus menyebarkan kecintaan pada Al Quran dan amal akhirat. Padahal, aku belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Tetapi, tausiah dan ajarannya tentang islam membuat setiap orang termotivasi untuk menjadi pribadi lebih baik.

Ketika beliau masih hidup, jujur aku ingin sekali membeli bukunya. Tapi, aku selalu lupa untuk membelinya sampai gak jadi-jadi. Sekarang, buku itu udah di tangan tetapi sedih sekali syekh udah almarhum. Saat membacanya, ternyata banyak sekali ilmu akhirat yang didapat, mudah dipahami dan Insya Allah  mudah untuk dipraktikan. Hiks..

Penyesalan memang terjadi belakangan. Hikmahnya, buku itu menjadi salah satu amal jariah bagi Syekh Ali. Karena, siapapun yang membacanya akan kembali sadar, bahwa kehidupan akhirat memerlukan bekal.

Kita tidak tahu amal shaleh mana yang menjaminkan husnul khatimah dan masuk surga. Bisa amal shaleh yang sederhana, yang remeh, yang kecil, tapi ternyata melalui amal itu, kita bisa terjamin masuk surga dan terjamin husnul khatimah.

-Syekh Ali Jaber-

Tak lama setelah Syekh Ali, aku kembali mendapat kabar duka dari seorang teman. Teman kuliah yang juga rekan kerja dulu, berpulang dikarenakan menderita kanker usus. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..

Memang, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan temanku ini. Sejak dia pindah ke Jawa, dan aku tidak bekerja lagi. Kami pun tidak pernah berkomunikasi. Hanya, berkawan di sosial media aja. Dari postingannya aku tahu, kalau dia sibuk travelling. JALUWARA namanya, orang yang sering tersenyum dibanding bicara. Kalau dia ngomong dulu suka lucu sendiri, karena logat jawanya yang medok banget. Sopan, dewasa dan jarang marah. Ternyata, dia harus pergi lebih cepat, bahkan aku gak tahu kalau selama ini dia menderita penyakit itu.

Belajar dari kematian
Al Quran sebagai penyelamat

Hidup adalah kesempatan

Kematian memang misteri. Jangankan orang terdekat, mungkin diri sendiri pun akan kaget ketika dihampiri oleh malaikat maut. Aku menjadi terhanyut memikirkan kematian. Seandainya, kita menemukan kematian itu apakah kita siap menerimanya? apakah bekal kita cukup? apa yang sedang kita lakukan saat waktu itu datang? Sampai kapan kita tidak sadar dengan maksiat yang sudah dilakukan? Apakah kita sudah bertaubat? Apakah ibadah kita diterima Allah SWT?

Jika dipikir, saat ini kita adalah orang beruntung. Masih diberikan kesempatan untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya. Masih punya waktu untuk berbuat kebaikan, Masih bisa menabung amal untuk akhirat kelak. Allah menjadikan kematian sebagai pelajaran. Bahwa, kesempatan dan waktu yang dimiliki jangan sampai di sia-siakan. Mari kita doakan keluarga, teman dan saudara yang sudah pergi lebih dulu. Semoga Allah Swt luaskan alam kuburnya.

Kematian memang mengerikan bagi kita yang masih hidup. Maka, hidup ini adalah kesempatan untuk bersiap sebelum kematian datang. Semoga kita dimudahkan untuk senantiasa memiliki amal untuk akhirat. Aamiinn Allahumma Aamiinn

search nurulafiati.com on google

Belajar dari Kematian
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: