Setiap Minggu, Ana tak punya harapan apa pun di sudut kamar sempit itu. Melalui kaca jendela kotak-kotak, gadis kecil itu melihat teman-temannya asyik berlarian di tanah lapang seberang rumah. Ada pula seorang teman sekelas ditemani sang ibu yang membawa semangkuk sup dan nasi. Sang ibu menyuapi anak itu.

Mereka berada di dunia yang seharusnya mereka berada, pikir Ana. Sedangkan dia merasa dirinya tak sebahagia itu. Ayah dan Ibu memang mencari nafkah dari berdagang kue. Namun, permintaan Ana yang hanya sekali agar bisa menikmati waktu bersama keluarga, nampaknya tak pernah terwujud. SeringkaliĀ  di awal pekan, teman-temannya asyik menceritakan liburan akhir pekan yang seru. Mengunjungi tempat wisata, makan di restoran, bermain di arena bermain atau sekadar berenang. Lagi-lagi mungkin, sudah biasa Ana hanya diam jika teman-temannya bertanya.

Tak ada yang spesial hari minggu baginya, bahkan saking kecewanya, Ana mengganti tanggal merah di kalender dengan spidol warna hitam.

Hingga pada suatu malam, saat Ibu menghampirinya di kamar. Ana sudah terlelap kala itu, melihat wajah malaikatnya, hati Ibu berdesir karena sedih. Mau tak mau, Ibu memilih untuk mengambil banyak pesanan di hari minggu, karena hanya dari berjualan itulah kebutuhan ekonomi sekeluarga tercukupi. Namun, ibu sadar jika selama ini dia telah melewatkan momen kebersamaan dengan gadis kecilnya itu. Muncul rasa sesal yang menyesakan dada, saat matanya menatap coretan tanggal merah yang berubah menjadi hitam. Terpikirlah sebuah rencana untuk menebus segala kekecewaan Ana padanya. Ibu berharap yang dilakukannya dapat mengembalikan keceriaan Ana.

Pekan selanjutnya di hari minggu. Tak terdengar suara mixer, suara ibu dan juga ayah dari lantai bawah. Ana sempat berpikir ada yang aneh, namun dia enggan beranjak dari kasurnya. Biasanya dari subuh, suara-suara terdengar menunjukan aktivitas yang sibuk dari bawah. Ditambah harum kue lapis yang matang menyeruak memenuhi seluruh udara. Tapi tidak hari ini.

Tak lama, terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya. Ana yang sudah bangun sejak pagi, langsung pura-pura tertidur.

Ayah membuka pintu kamar, dan wangi parfum khasnya menyebar ke seluruh ruangan. Ayah mau pergi kemana ? Pikir Ana. Rasa penasaran yang menyusup membuatnya bangun dan berbalik ke arah datangnya ayah.

“Ana, mau ikut Ayah gak?” tampak ayah sudah bersiap dengan pakaian rapi.

“Mau kemana Ayah ?” Ana berbalik tanya. Dari belakang, tampak Ibu datang menyusul dengan pakaian rapi siap untuk berpergian.

“Ke pasar, mau beli bahan kue.” Timpal Ibu, Ana tak mampu menutupi rasa kecewanya. Sempat terpikir, mungkin Ayah dan Ibu akan mengajaknya pergi. Tetapi, perkiraannya meleset. Ana terdiam, dan menarik selimutnya kembali menghadap ke arah jendela. Terdengar suara ibu yang tersenyum melihat tingkahnya.

“Oh, salah. Hari ini kita akan ke pantai.” seketika Ana membalikan badan seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

Wajah Ibu dan Ayah tersenyum melihat ekspresinya.

” Ibu bener ? Kita akan ke pantai hari ini ?”

” Ya, sekarang tugas kamu, mandi dan ganti baju. Ayah dan Ibu tunggu di bawah ya.” Ayah menjawab dan segera menuju ke bawah. Diikuti Ibu.

Ana menatap keluar jendela, melihat pancaran mentari yang seolah menambah rasa bahagianya. Cerah ceria, terbayang tempat yang akan ditujunya beberapa jam ke depan. Tak sabar lagi, dia merasakan hangatnya pasir pantai yang lembut. Kini, dia mengambil spidol merah di atas meja belajarnya, melingkari tanggal hari ini. Sebelum akhirnya, dia sibuk mempersiapkan diri.

#OneDayOnePost #Fiksi #CeritaPendek #Keluarga

Minggu yang Sama, cerpen anak
Tagged on:     
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: