Sudah ketiga kalinya, Mila bermimpi buruk. Sebuah asap membumbung tinggi dari rumahnya. Kebakaran meluluhlantakan kekokohan rumah yang dia bangun bersama suaminya. Terbangun dengan nafas tersengal-sengal, kekalutan tampak dari wajah Mila.

Apa maksud dari mimpi itu, entah tak ada yang tahu. Namun, suasana subuh yang mengembuskan kesyahduan tak dirasakan sedikitpun olehnya. Segera ia bangun dan membersihkan diri, lalu berwudhu. Dalam balutan mukena panjang ia bersimpuh dan berdoa selepas melaksanakan ibadah subuh.

Sebuah cerita pendek

Dalam hatinya, mimpi itu cukup membuat was-was karena jika hanya satu kali saja mungkin bisa dia abaikan. Tetapi kali ketiga, rasanya ada hal yang tidak beres yang akan terjadi. Batinnya merasakan cemas luar biasa. Berkali-kali bibirnya basah mengucapkan dzikir berharap perlindungan Yang Maha Kuasa.

Pikirannya kacau dan bertambah kalut ketika suaminya tak dapat dihubungi. Suami Mila, Ali berprofesi sebagai dokter. Atas permintaan pimpinan di rumah sakit, tempatnya praktik. Ali harus melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan dalam rangka pencegahan penyakit Malaria.


Berkali – kali Mila memandangi gawainya yang nyaris sepi. Tak seperti biasanya, Ali selalu menghubunginya saat sebelum bekerja, di sela istirahat dan ketika sudah selesai bekerja. Terhitung sudah empat hari, tak ada kabar dari Ali. Jelas wajahnya murung dan setiap hari kecemasan melandanya.


“Jangan-jangan Pak Ali kepincut gadis sana.”


“Hati- hati Bu, bisa jadi ada perawat yang naksir Pak Ali, apalagi kan masih muda, dokter lagi.”


“Doakan saja Bu, Pak Ali kuat menahan godaan.”


Suara-suara sumbang yang berkomentar membuatnya makin kesal. Kala sebagian tetangga bukannya memberi penguatan malah semakin membuatnya merasa kalut.

Hingga kecemasan itu mencapai titik tertinggi dan semakin sulit untuk menahannya. Mila segera menghubungi kembali pihak rumah sakit, namun nihil. Belum juga ada kabar jelas mengenai suaminya.

Teringat kembali mimpi buruk yang bersambung bagai episode sinetron. Dada nya terasa sakit dan tanpa terasa air matanya mengalir tak berhenti.

Semua akan baik-baik saja

Kalimat itu dia ucapkan, untuk menguatkan jiwa yang merapuh. Lalu dengan mengenakan gamis dan hijab, segera dia langkahkan kaki menuju suatu tempat.

Derap langkah tergesa seakan mengingatkan burung-burung untuk kembali ke sangkarnya. Matahari sore menguarkan jingga menampilkan perpaduan warna yang indah.

Di depan sebuah rumah bilik, duduk seorang perempuan paruh baya berkerudung ungu tua baru selesai menutup majelis pengajiannya. Satu persatu anak mencium punggung tangan seraya pamit ke rumah mereka masing-masing.
Melihat kedatangan Mila, senyum tulus seketika menentramkan hatinya. Setelah duduk dan menceritakan mimpi beserta suaminya yang tak ada kabar. Rasanya semua hal menjadi lebih ringan bagi Mila.
Sejenak Ummu, panggilan untuk wanita bersahaja itu, menghela nafas dan mengusap punggung Mila.

“Kamu tahu Ukh, mimpi itu ada tiga, diantaranya adalah mimpi yang benar, mimpi karena bawaan perasaan dan mimpi karena ditunggangi syaitan.”

Melia mendengarkan dengan seksama ucapan Ummu.
“Mengenai mimpi burukmu itu, belum tentu mimpi itu datangnya dari Allah. Bisa pula karena terbawa perasaan yang kamu pikirkan sebelum tidur atau malah datangnya dari syaitan untuk menakutimu.”

Astaghfirullah Um …” Mila tersadar bahwa bisa jadi mimpi itu hadir karena ketakutan dan pikiran jeleknya yang muncul seiring perginya Ali ke Kalimantan.

” Semua akan baik-baik saja, percayalah. ” Ucapan Ummu seolah menambah keyakinan Mila.”

“Lalu, kenapa harus tiga hari berturut-turut ? Bukankah itu hal yang janggal,Ummu.”

“Coba ingat-ingat sejak kapan kamu berpikiran negatif atas kepergian suamimu?”

“Sejak dapat kabar dia akan pergi kesana Um.”

“Nah, Itulah mengapa kamu bisa mimpi berturut seperti itu. Pikiran yang kacau sebelum tidur yang belum tentu benar membuat mimpimu seperti sinetron. Oleh sebab itu, sebelum tidur sebaiknya rutinkan membaca Al Mulk ya. Insyaa Allah, Tidurmu lebih nyenyak dan tenang.” Jawabnya sambil tersenyum.

Suara adzan maghrib berkumandang mengingatkan Mila untuk segera pulang. Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih. Dia langkahkan kedua kakinya yang kini terasa ringan. Seolah beban pikiran dalam hidup yang terus bergelayutan lepas satu persatu. Dia terus bergumam meyakinkan diri bahwa tidak akan ada hal buruk yang menimpanya.

Sesampainya di depan rumah, sontak air wajah Mila berubah saat kedua pasang matanya menangkap sosok pria yang telah dia nantikan. Tak tunggu lama, Mila ambil langkah cepat dan meraih bahu gagah itu. Kedua lengan dia lingkarkan pada pinggang sang suami, seakan tak mau ditinggal lagi.

#CERPEN

 

Mimpi Ketiga
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: