Pernah gak, terpikir apa yang terjadi jika ternyata corona itu telah masuk ke tubuh kita?

mengucilkan orang terkena covid?
Berlaku bijak terhadap penderita covid

Ih amit-amit! Jangan sampai deh,

Corona itu gak ada, bohongan itu.

Jangan panik ah, santai aja asal protokol kesehatan dijalani mah.

Mau aja diboongin Amerika, itu mah suruhan biar orang pake masker, jangan mau!

Itulah ucapan sebagian orang dengan rasa percaya diri. Mereka tidak tahu tapi sok tahu, mengajak orang lain untuk tidak melakukan protokol kesehatan. Sejujurnya mendengar ucapan seperti itu cukup membuat kesal. Corona sudah membayangi kita sejak delapan bulan yang lalu. Tetapi kenyataannya pengetahuan masyarakat belum meningkat. Banyaknya berita beredar malah membuat masyarakat semakin malas memperbarui informasi. Belum lagi, penurunan rasa percaya kepada pemerintah ikut mempengaruhi kepedulian masyarakat atas covid ini.

Seminggu lalu, ketakutan terbesarku terhadap corona menjadi kenyataan. Qadarullah, suami mendapat hasil positif atas hasil swabnya. Corona yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang ternyata harus aku alami juga. Kaget, takut, bingung bercampur jadi satu, apa yang harus aku lakukan setelah ini?

Esok harinya, kami berinisiatif membawa seluruh anggota keluarga melakukan swab. Awalnya aku merasa kasihan sama Shalu dan Khalid. Mereka masih kecil tapi harus melakukan tes, kasihan banget. Swab itu rasanya agak sakit, gak kebayang kalau anak-anak mengalami itu.

Setelah berpikir dan demi kebaikan bersama, akhirnya aku tetap membawa anak-anak melakukan swab. Benar aja, dua-duanya nangis karena kesakitan, sedih banget melihatnya.

Sehari setelah tes, ternyata hasilnya keluar lebih cepat dari perkiraanku. Tepat tanggal 4 November 2020, kami mendapat kabar kurang baik. Hasil tes tersebut positif. Mama, Papa, Adik, dan aku sendiri ternyata positif covid. Alhamdulillah, anak-anak negatif. Setidaknya, aku bersyukur anak-anak terlindungi.

Setelah mengalami corona, rasa takut itu perlahan berkurang. Kejadian ini malah membuat rasa takut masyarakat sekitar rumah terhadap corona meningkat. Lalu, aku mempelajari tipe masyarakat dari tanggapan mereka terhadap penderita covid. Berikut reaksi mereka :

  • Takut tertular, tidak mau bertemu dengan penderita.
  • Menutup pintu dan jendela rumah rapat-rapat agar tidak tertular dari penderita covid
  • Memakai kacamata, tidak mau melihat si penderita meskipun dari jarak jauh
  • Tidak peduli dan memilih bersembunyi
  • Marah pada si penderita karena dianggap membawa virus ke lingkungannya
  • Menolak berbicara dengan penderita
  • Menolak percaya hasil swab dan meremehkan covid
  • Cuek, tidak peduli, masa bodoh
  • Fokus menyebarkan berita tentang penderita covid saja

Jujur, pertama kali mengalaminya aku agak kaget dan sedih. Pandangan mereka terhadap penderita Covid terasa berlebihan. Karena takut, mereka malah tanpa sadar menyakiti hati orang yang terkena covid. Seolah covid adalah kutukan, banyak yang lebih memilih menjauhkan bahkan tidak mau lewat ke depan rumah.

Selain itu, ada pula masyarakat yang fokus pada penyebaran berita yang belum tentu benar adanya. Sibuk membeberkan tentang apa yang dialami penderita covid sesuai prasangkanya sendiri. Padahal, sekali pun orang itu belum pernah berbicara atau menanyakan kepada penderitanya. Miris.

Terlepas dari kejadian yang aku alami, tidak dipungkiri, ada juga orang yang memberi respon baik. Membantu dan mensupport kami dengan cara memberikan bantuan pangan, menghubungi dan menanyakan keadaan kami setiap hari. Sungguh ya, yang lebih berat itu bukan pada sakit yang dialami. Tetapi stigma masyarakat terhadap penderita covid itu menyakitkan. ampuun deh.

Berikut hikmah yang aku pelajari selama masa isolasi ini :

  1. Orang yang selama ini meremehkan dan enggan memakai masker jadi sadar dan lebih memperhatikan protokol kesehatan
  2. Kepedulian masyarakat terhadap corona meningkat
  3. Masyarakat lebih sadar dan mau bergotong royong membantu tetangga yang terkena covid
  4. Kebersihan lingkungan sekitar lebih diperhatikan
  5. Peduli untuk meningkatkan imunitas
  6. Sebagian memilih tenang dan tidak panik terhadap situasi
  7. Waktu santai lebih banyak, hehe..

Begitulah, realita yang terjadi dan respon orang terhadap virus corona. Di balik itu, aku memilih untuk bahagia dan berpikir positif saja agar virus bisa segera pergi dari tubuh ini.

Kita tidak tahu, akan tertular virus itu darimana, dimana, dan siapa. Jadi mengucilkan orang yang covid bukanlah suatu hal bijak. Perbanyak pengetahuan dan cara menangani covid bagaimana, supaya langkah yang diambil baik bagi semua.

Semangat, sehat, bahagia, sembuh total, aamiinn

#OneDayOnePost #TantanganPekan9 #ODOPBatch9

Mengucilkan Orang Terkena Covid?
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

9 thoughts on “Mengucilkan Orang Terkena Covid?

  • Avatar
    November 7, 2020 at 9:48 am
    Permalink

    Waahhh …. Alhamdulillah si kecil negatif ya mbakkk …. Semangat mbaaakkk … Tak usah pedulikan mereka yang jadi toxic bagi kesehatan kitaaa. .. Happy aja ya mbaaakkk. .

    Reply
  • Avatar
    November 7, 2020 at 11:48 am
    Permalink

    Kasihan si kecil..
    Rasanya pasti sakit banget..
    Semangat terus, Kak..
    Emang bener, gak tau kenapa orang-orang bisa gak percaya padahal udh banyak korbannya..
    Walau gak percaya, seharusnya tetap menjalankan protokol kesehatan yg ada, toh gak ada ruginya..
    dan kalau emang ada tetangga yg kena, ya disupport, bukannya malah disebar-sebarin ke luar..
    heran emang sama orang-orang..

    Reply
  • Avatar
    November 7, 2020 at 12:21 pm
    Permalink

    Alhamdulillah kak nurul tetap positif thingking dengan menjadi pribadi yang tetap bahagia. insyaAllah ini bisa dilalui, you’re not alone. do’a terbaik untuk kak nurul dan keluarga

    Reply
    • Nurul Afiati
      November 7, 2020 at 12:22 pm
      Permalink

      Insya Allah, aaminn.. tetap positif lebih tenang, makasih kak yonal

      Reply
  • Avatar
    November 7, 2020 at 3:17 pm
    Permalink

    Cepet sehat ya. Aku tahu banget rasanya karena sempet juga merasakan swab. Rasanya nano-nano banget. Tapi percayalah, semua akan terlewati.

    Memang gitu. Edukasi masyarakat kurang. Yang aku lihat, masyarakat yang kena Covid dikucilkan, tapi mereka sendiri banyak yang abai. Padahal Covid sendiri bukan penyakit yang datang karena kita melakukan hal memalukan.

    Sahabat saya sampai pernah ragu buat pulang ke rumah karena takut dikucilkan. Namun, untung dia sekarang sudah mulai bisa beraktivitas normal.

    Peluk buat keluarga ya. Bahagia, kuat, sehat.

    Reply
    • Nurul Afiati
      November 7, 2020 at 4:04 pm
      Permalink

      Terima kasih ya mba susana, gak apa ini fase yang harus dilewati, positif thinking dan cuekin aja lebih baik. Sedih ada tapi ya ga mau berlarut. Pasti sembuh dan sehat lagi 😊. Bahagia kuat sehat

      Reply
  • Avatar
    November 7, 2020 at 9:41 pm
    Permalink

    Yaa Allah, semoga Allah senantiasa melindungi kita dimanapun dan kapanpun itu. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: