Cerpen Kisah Masygul Sang Sulung
Kisah Masygul Sang Sulung (Pixabay). Foto : Pixabay

Memang benar kata orang, anak yang paling beruntung adalah anak sulung. Biasanya anak pertamalah yang merasakan kebahagiaan, kemewahan, dan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Walau sempat percaya, nyatanya pendapat itu tak sepenuhnya benar. Sebagai anak sulung, aku pun merasakan sakit yang mendalam tanpa mampu mengungkapkan pada orang lain termasuk adik-adikku.

Kejadian dua puluh tahun silam memutarkan kisahnya. Meski, seperti gambaran film jaman dulu yang perlahan mulai kabur. Hingga tumbuh dewasa, kucoba menapak tilas kejadian demi kejadian. Aku ingin tahu apa penyebab dari pertengkaran yang berakhir dengan perceraian kedua orang tuaku.

Lahir dalam sebuah keluarga yang dulunya harmonis, aku mulai mengalami shock pertama kali ketika rumah tangga orang tuaku mulai retak. Ya, sebagai anak pertama, akulah orang pertama pula yang melihat ayah ibu bertengkar hebat memancing keingintahuan tetangga hingga pak RT pun turun tangan saat itu.

“ Jangan pikir, kau bisa kabur ya? Kau harus tanggung jawab, Sinta.” lengan kekar Ayah mengebrak lemari kaca yang membuatnya hancur bagai kristal. Kulihat sembab di kedua mata Ibu, pipi sebelah kanan lebam, betis kuning langsatnya mengeluarkan darah akibat terkena pecahan kaca.

“ Mas, jaga suaramu. Anak-anak nanti bangun.” suara Ibu terdengar setengah memohon. Tak kuasa aku mendengar suaranya dengan tangis yang tertahan.

Aku tak memahami apa sebab permasalahan mereka. Aku pura-pura tertidur saat melihat Ayah menjambak kasar rambut Ibu. Suara Ibu memekik, nyeri. Tak sangka, dia perlakukan ibuku sekejam itu. Dia lempar pakaian Ibu dari dalam lemari dan berserakan di jalanan. Tak sanggup untuk bersandiwara, dengan air mata yang tak tertahan aku memanggil Ibu dan berlari sekencangnya, berharap dengan lengan kecil ini mampu melindunginya dari amarah liar Ayah.

Di luar dugaan, ketika sampai dihadapannya, Ibu tak menoleh padaku dan mendorong hingga tubuh kecil ini tersungkur. Hidung bangirku menyentuh tanah, lecet dan berdarah. Bagai disambar minyak panas, hatiku terasa perih. Pertama kali, Ibu melukaiku. Tak ada yang mampu aku lakukan, tangisan meledak bukan karena sakit. Tetapi, sebab luka yang menganga di dalam hati.

Uwa Tuti, mendengar tangisanku. Setengah berlari, dia masuk ke rumah. Membantuku berdiri dan membawa serta kedua adik ke rumahnya. Dalam hati yang kacau, aku tertidur sembari sesenggukan dalam pelukannya.

Januari 2019

Usapan angin membelai lembut kulit wajahku. Kuhirup perlahan oksigen yang Tuhan sediakan. Kakiku menapaki jalanan aspal di depan sebuah rumah kayu tua bergaya vintage yang masih tak berubah. Hanya ada perubahan sedikit, pada cat nya yang membuat rumah ini makin mencolok.

Rumah kecil berdiri tegak di tengah halaman yang luas dan berumput hijau, menjadi saksi bagaimana transformasi antara kebahagiaan dan kesedihan sangatlah cepat. Sebuah kenangan berkelebat, tawa canda masa kanak-kanak terbayang jelas. Seorang wanita dengan daster batik bunga berwarna ungu tampak memegang sebuah mangkok berisi nasi, perkedel kentang dan sayur sop kesukaanku. Sambil menyuapi kami bertiga, kaki lincahnya mengejar kami yang asik berlarian, lengkungan senyum tak menampakkan lelah sedikitpun menghadapi kenakalan kami.

Di sebelah rumah, tetangga terdekat sudah seperti saudara bagi kami. Wa Tuti dan suaminya tinggal disana. Sayangnya, Wa Tuti tidak memiliki anak sehingga mereka menganggap kami sebagai anak-anaknya sendiri. Rumah itu pun kini sudah jadi milik orang lain.

Menurut orang-orang yang tinggal di daerah sini, Wa tuti dan suaminya ikut pindah tak lama setelah kejadian yang menimpa kami dan tak tahu berada dimana sekarang. Teka-teki tentang perceraian orang tuaku meninggalkan luka dan rahasia yang mendalam.

Kucoba mengingat dan mencari petunjuk lain. Tiba-tiba aku teringat pada saat kejadian pak RT ikut melerai pertengkaran. Setelah mencari tahu, akhirnya sampailah aku di sebuah ruangan di dalam rumah pak RT yang menjabat pada saat kejadian. Dia yang akhirnya aku tahu bernama Pak Ajat.

Pak Ajat sedikit terkejut melihatku yang sudah berusia 26 tahun. Disajikan oleh istrinya, kudapan khas Singkong goreng dan teh manis tawar. Setelah berbasa-basi, dan menyatakan maksud kedatangan. Terlihat Pak Ajat menahan kesedihan yang tersembunyi di pelupuk matanya, setelah mengetahui tentang ayahku saat ini.

“Sabar ya Nak, kadang kita tak tahu akan mendapat ujian apa selama hidup. Ibu kamu orang yang baik. Sayang, dia salah langkah.” salah langkah? aku menjerit dalam hati. Ayah yang salah langkah, tanpa belas kasih menyakiti ibu secara fisik dan batin.

“Ayah yang jahat pada ibu,Pak. Dulu saya masih kecil, melihat tindakan ayah yang membabi buta pada Ibu.” ungkapku membela ibu. Tampak pria tua berkumis itu menghela nafas panjang.

“Kelak kamu akan jadi seorang istri. Selingkuh apapun masalahnya adalah kesalahan besar baik dari agama atau sosial Nak.” ucapnya hati-hati.

Perlahan, kepingan puzzle itu membentuk sebuah gambaran yang cukup membuat jantungku nyaris berhenti. Malam itu merupakan malam terakhir aku menatap wajah ibu. Sampai usia sedewasa ini, tak lagi kulihat batang hidungnya.

Dulu, di sebuah perusahaan retail, disanalah awal mula cinta keduanya bersemi. Cinta yang tulus dan mendalam dari Ayah, membuatnya menutup mata akan asal – usul Ibu. Tak terkuak siapa orang tua kandung Ibu hingga Ayah menikahinya. Pernah kutanyakan pada Ibu, dimana rumah kakek nenekku dulu. Jawabannya sudah meninggal dan kini rumahnya sudah dijual. Bagi anak kecil seperti aku, Nazmi. Kedua adikku Adi dan Gilang jawaban Ibu sudah cukup menjelaskan semuanya. Tak kusangka, kebersamaan kami cepat berlalu.

Badai mulai datang menghantam kebahagiaan keluarga kami. Terungkap jika selama ini Ibu menggelapkan uang perusahaan total 500 juta. Bekerja di divisi yang berbeda, membuat Ayah tak tahu apa yang Ibu lakukan. Ternyata perusahaan tidak tinggal diam dengan penyelesaian kekeluargaan, selain meminta uang tersebut dikembalikan. Ibu diizinkan bekerja namun dipindahkan ke departemen berbeda.

Nyatanya, penyelidikan teruslah berjalan. Sampai suatu ketika, badai yang lebih besar menyingkap kenyataan pahit. Ayah dibuat murka ketika menemukan bahwa selama ini Ibu berselingkuh dan melakukan korupsi untuk selingkuhannya. Tak tahan dengan sikap Ibu, Ayah berlaku kasar dan mengusirnya pada malam itu. Ayah terpukul dan berimbas pada kami. Kejadian itu membuatnya sering bertindak kasar. Bukannya membaik, ayah sudah tidak memikirkan kami lagi. Seakan sudah tak mampu mempercayai siapapun.

Masih jelas di ingatan, saat kami terpaksa pindah dari rumah nyaman itu. Aku meronta menarik lengan ayah agar tidak harus pindah namun lagi-lagi hal itu membuat ayah semakin marah dan cukup membuatku takut hingga lama membungkam kepadanya. Kini, aku sadar berpindah pun bukanlah kemauan Ayah, terpaksa Ayah harus menjual rumah untuk membayar hutang Ibu. Sungguh sangat tidak adil baginya.

Semasa hidup pasca perceraian, Ayah menjadi frustasi dan lebih banyak termenung. Tentu saja, perusahaan tak mau mempertahankannya. Rupanya itu membuatnya semakin tertekan. Cobaan terus berdatangan tak henti, pada tahun ketiga kami merasakan kembali kepergian orang yang kami cintai. Tinggalah kami bertiga terkatung-katung.

Tak terasa airmata mengalir tak terbendung. Setelah kudapatkan kepingan puzzle yang utuh. Segera ku beranjak pamit, dari rumah pak RT yang sudah amat sepuh. Waktu berjalan sangat melambat saat itu, bahkan berhenti ketika aku kembali melewati rumah tua. Tidak lagi kulihat kenyamanan dan keindahan dari rumah bergaya vintage itu. Tidak ada  kenangan yang pantas diingat dari sana. Kuambil langkah segera dan berjanji tidak akan pernah melihat rumah itu lagi.

Ayah..maafkan aku. Berat sekali permasalahan hidupmu sedangkan aku terus saja mengutuk ayah sebagai orang yang membuat wanita itu pergi hingga kau menutup mata.

#Cerpen

Kisah Masygul Sang Sulung
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: