Dua kuncir rambut milik gadis kecil tersapu angin, tampang lugu yang menggoyah rasa iba. Dia duduk di atas trotoar. Badannya bergetar kedinginan.

Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, hanya anak pengemis, mungkin. Atau hanya seorang anak yang kebetulan kesasar dan kehilangan orangtuanya. Bisa saja itu terjadi. Tapi, yang pasti, tidak ada yang peduli dan merasa ingin tahu siapa gadis kecil itu, termasuk saya. Saya hanya mengamati gadis kecil itu sepanjang malam. Hanya bergeming, tidak melakukan apa-apa. Hanya mengamati. Sudah.

Bunyi bising kendaraan tak membuatnya terganggu. Kali ini, saya memutuskan untuk mendatangi gadis kecil itu. Saya rogoh isi kantong yang hanya tersisa selembar 100 ribu. Bagi karyawan seperti saya, di tengah bulan uang seratus ribu sangatlah berharga. Tetapi, melihat gadis kecil nurani saya bergejolak. Meski masih lajang, penghasilan bulanan yang didapat saya bagikan untuk emak dan adik-adik sekolah di kampung. Tak apalah, sebagai bakti pada orang tua yang sudah sepuh. Gadis itu mengingatkan pada Ani, adik saya yang masih SD.

Rasa itulah yang kini membuat saya berada tepat di depan gadis kecil itu. Tangan sebelah kanan saya penuh dengan sekantong plastik makanan ringan dan dua bungkus nasi padang, tak lupa dua botol air mineral. Saya sapa gadis kecil itu perlahan, takut dia terkejut.

“Dik” panggilku pelan sambil menyentuh bahu nya yang amat terlihat bergetar karena dingin. Gadis itu menoleh takut. Sambil menunjukan plastik yang saya pegang, sedikit senyum saya perlihatkan sebagai tanda saya bermaksud baik.

“ Ya, Kak.” Jawabnya kemudian.

“ Kakak, belum makan. Kita makan bersama yuk.” Dia menggeleng lalu menunduk kembali. Saya harap, beberapa orang yang melihat tak akan berpikiran kalau saya penculik.

“ Boleh, kakak duduk disini? Alhamdulillah.. kakak baru dapat rezeki. Kakak lupa kalau di rumah sedang pada pergi. Daripada mubazir, dan kakak makan sendirian. Gak sengaja liat kamu Dik, jadi kakak mau ajak makan bersama.” Dia mulai membuka diri, tampak dari senyum yang menampilkan barisan gigi kecil dan rapi.

“ Andra. Panggil saja Kak Andra. Saya kerja di gedung itu.” Saya menunjukan ujung gedung menjulang yang tak jauh dari trotoar ini berada.

“ Terima kasih Kak, Semoga kakak bisa jadi orang yang sukses. Nama saya Ade.” Dengan malu-malu, matanya mengarah kepada bungkusan nasi yang masih hangat. “ Kak, maaf itu apa?” tanyanya.

“ Nasi padang, mau?” dia mengangguk cepat. “ Tapi, kita cari tempat duduk yuk, disini banyak debu dan asap mobil.” Lalu saya menunjuk pada sebuah bangku taman, terbuat dari besi yang berada tepat di bawah rimbunan daun lebat.
Tak berapa lama, saya dan Ade sudah berada di bangku dan membuka bungkusan yang menyeruakkan bau harum ayam bakar. Ade membuka nasi dan memakannya sedikit. Lalu menutupnya kembali.

“ Kenapa? Gak suka?” tanya saya heran. Dia menggeleng lalu menunjuk pada dua orang bocah yang sedang mengamen.

“ Kak, terima kasih makanannya. Tapi saya harus menunggu dua orang teman saya. Boleh kalau saya bagi nasi ini sama mereka, Kak? Saya memandang ke arah dua bocah yang ditunjuk. Tampak di bawah lampu merah, dua orang bocah berpakaian lusuh sedang membawa sebotol plastik berisi paku kecil-kecil. Botol yang mereka jadikan alat musik dipadu dengan suara sember yang keluar dari mulutnya.

“ Baiklah, Ade. Kamu boleh bagi nasi bungkus kakak dan makanan ringan ini buat mereka ya.”

“ Lalu, kakak gimana?”

“ kakak makan di rumah saja nanti. Kalau gitu, sekalian kakak pamit pulang ya.”

Saya berikan makanan itu pada mereka. Terbentuk lengkungan bibir mungilnya menyungging. Setelah beranjak pulang, saya amati gerak langkah riang si gadis kecil mengarah pada teman-temannya seraya menunjukan makanan. Sontak bocah-bocah itu gembira bukan main.

Angin malam membelai wajah saya dengan lembut. Usapan kebahagiaan muncul mengisi daya ke seluruh tubuh. Ternyata inilah rasanya berbagi kebahagiaan di saat sempit. Selembar uang seratus ribu telah ditukarkan dengan kebahagiaan mereka. Kini terpakulah saya di depan tv dengan semangkuk mie instan yang selalu setia menemani. Tapi, anehnya.. mie instan hari ini terasa lebih nikmat.

#OneDayOnePost #Fiksi #Cerpen

Cerpen berjudul Mie Instan Hari ini
Tagged on:     
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

7 thoughts on “Cerpen berjudul Mie Instan Hari ini

  • Avatar
    November 5, 2020 at 10:41 am
    Permalink

    Wah, setuju mbak, berbagi sama orang lain itu punya kebahagiaan tersendiri :’)

    Reply
  • Avatar
    November 5, 2020 at 10:50 am
    Permalink

    ada keberkahan dan kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa berbagi. Sehat terus kak Nurul, you’re not alone

    Reply
  • Avatar
    November 5, 2020 at 12:20 pm
    Permalink

    Ya Allah, keren banget ceritanya. Sederhana tapi bikin Brebes mili. Terima kasih sudah buat karya ini.

    Reply
  • Avatar
    November 5, 2020 at 8:24 pm
    Permalink

    duhh…menyentuh. Bahagia itu sederhana. Saat melihat orang lain bahagia ternyata kita lebih berbahagia

    Reply
  • Avatar
    November 5, 2020 at 10:21 pm
    Permalink

    Masya Allah … Kisah sederhana dengan pesan kebahagiaan yang juga sederhana tapi makjleb 😢 tetap semangat mbak nurul 💪

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: