Jika ingin didengar, maka dengarkanlah orang lain

Dalam adegan pada sebuah film, tampak seorang ibu menyapa anaknya yang berumur 9 tahunan. Anak itu baru saja pulang sekolah. Dengan tampangnya yang letih, capek dan muram, si ibu menanyakan tentang apa yang terjadi padanya.

Si anak menggelengkan kepala dan langsung pergi menuju kamarnya, mengunci diri. Berulang kali ibunya bertanya dari balik pintu kamar, anak itu tidak menjawab dan mengabaikannya. Padahal adegan sebelumnya, telah diceritakan bahwa si anak mengalami bullying di sekolahnya.

Kejadian di atas memang hanya bagian dari cerita film. Namun, di balik fiktifnya cerita, kejadian tersebut cerminan dari rangkaian hidup sehari-hari. Seringkali kita melihat bahkan mengalami hal seperti yang dialami ibu anak tersebut.

Sebagai orang tua, kita selalu ingin menjadi orang pertama yang mendengar kisah yang mereka alami. Namun, semakin besar, anak seperti membangun dinding tinggi dan menolak untuk menceritakan atau curhat tentang apa yang mereka alami.

Seketika, aku mengingat kembali saat masa remaja dulu. Ketika remaja, aku pun memilih untuk bercerita pada teman dibandingkan orang tua. Itu terjadi karena ada beberapa hal yang buat aku tidak terlalu terbuka pada orang tua.

  • Malu
  • Takut dimarahi, padahal aku juga gak melakukan kesalahan
  • Segan
  • Merasa orang tua gak merasakan apa yang kita alami
  • Orang tua gak bakal ngerti
  • Merasa bisa mengatasi sendiri

Itulah sedikitnya alasan kenapa dulu aku memilih tidak bercerita pada orang tua. Keadaan saat ini berbalik, aku mulai merasakan kekhawatiran dan ingin tahu tentang semua hal yang anak alami. Melihat perkembangan dunia yang terasa semakin ngeri, jadi ya ada rasa parno tersendiri terhadap lingkungan anak-anak.

Sebuah buku yang membahas parenting cukup mengobati ketakutan yang aku alami. Dari buku tersebut, aku merasa semua hal yang ditakutkan bisa teratasi. Ilmu parenting memang selalu asyik untuk dibagi. Karena, banyak orang tua yang juga merasakan hal yang sama denganku, nah akhirnya aku menulis artikel ini hehe..

Bersumber dari bukunya Abah Ihsan, berjudul Yuk, jadi orangtua shalih! Sebelum meminta anak shalih. Berikut 9 cara agar anak nyaman curhat kepada orang tuanya.

9 Cara Agar Anak Nyaman Curhat Kepada Orangtuanya
Buku Abah Ihsan

1. Mengenal Karakter Anak

Setiap anak itu unik. Maka pendekatan yang dilakukannya pun berbeda-beda. Karena berbicara sudah menjadi kebutuhan manusia. Pastinya, anak pun ingin mengungkapkan apa yang dia alami dan rasakan. Mereka akan mencari tempat curhat pada akhirnya.

Mengenali karakter anak penting untuk menyikapinya agar nyaman ketika bercerita. Sebagian anak ada yang cerewet, ada pula yang malu untuk bicara. Jika anak termasuk pemalu atau belum lancar berbicara, pancing anak dengan pertanyaan terbuka. Lalu bersabar ketika dia membutuhkan waktu untuk mengungkapkan.

Sebaliknya kalau anak cerewet, tetap pasang kedua telinga, dengarkan mereka dengan hadir ‘penuh’. Pastikan tempat pertama mereka untuk curhat adalah kita.

There’s a lot of difference between listening and hearing

G.K. Chesterton

2. Tidak Paksa Anak Berbicara

Saat anak tidak mau berbicara, sebaiknya hindari memaksanya. Mungkin anak masih butuh waktu mencerna masalah atau hal yang sedang dialaminya. Cukup katakan, “Ibu senang jika kamu mau cerita, Nanti kalau kamu udah mau cerita, Ibu siap mendengarkan.” Lalu, tunggu saja kapan mereka siap untuk bercerita.

3. Tahan Beri Nasihat

Ketika masalah yang timbul akibat kesalahan atau kelalaiannya. Setelah anak curhat, tahan diri untuk menasihati. Terburu-buru menceramahi hanya membuatnya tidak nyaman. Biarkan dulu dia mengungkapkan apa yang dia rasakan.

4. Beri Kepercayaan untuk Mencari Solusi

Peran orang tua sebagai fasilitator. Ketika anak menghadapi masalah biarkan dia mencari solusinya. Dengan cara, pancing anak untuk berpikir solusi terbaik atas permasalahannya. Misalnya ketika dia mendapat nilai jelek, pancing dengan bertanya, ” Ibu tau, kamu kecewa sama nilai kamu, kira-kira apa yang bisa kamu lakukan supaya nilai kamu nanti lebih baik? Ada yang bisa Ibu bantu dalam hal ini?”

Dengan begitu, anak-anak akan dilatih menjadi problem solver, setidaknya untuk dirinya sendiri. Dan anak juga yang memutuskan di bagian mana orang tua membantunya.

5. Batasi Nonton Tv

Efek buruk menonton tv atau bermain gadget adalah dapat menjadikan anak-anak pasif. Mereka hanya menerima, tidak merespons aktif. Secara fisik, mereka kurang gerak, hanya diam. Padahal, bergerak itu menstimulasi otak dan kecerdasan anak-anak. Meskipun sulit, coba yuk pelan-pelan kurangi waktu anak menonton. Demi masa depan mereka juga kok. Bismillah..

6. Berlatih Terus

Idealnya, ketika anak semakin besar maka semakin sedikit kita berbicara. Anak-anaklah yang banyak bicara. Mulai sekarang, aku pun berlatih banyak mendengarkan anak. Dengan cara, memandang kedua matanya ketika berbicara. ‘hadir’ saat mereka bercerita, dan kurangi berkomentar saat anak belum selesai mencurahkan perasaannya.

7. Ungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan ketika anak sudah selesai bercerita

Selesai bercerita, hal yang paling sering namun buruk untuk kita lakukan adalah menyalahkan, mengungkit-ungkit masalah, dan membanding-bandingkan dengan kakak atau adiknya. Ingat, kita harus berusaha membantu menghadirkan solusi jika ingin berbicara. Hal ini penting agar ke depannya, kita selalu menjadi tempat curhatnya anak-anak.

8. Gunakan Momen Ketika Anak Santai

Santai adalah waktu paling rileks untuk mereka, dia akan lebih nyaman bercerita dan terbuka untuk mendengar sedikit pesan yang kita berikan.

9. Ekspresif

Empati kuncinya. Kita harus ekspresif menunjukkan ekspresi sesuai dengan yang mereka ceritakan. Kita bisa berikan senyum, tawa, sedih tetapi jangan berlebihan. Kita harus pandai mengendalikan diri, empati, dan bisa menjadi sosok orang tua yang bisa anak andalkan.

Kesembilan cara tersebut tampak mudah namun sulit jika kita belum terbiasa melakukannya. Tapi, tenang, kita bisa berlatih hingga terbiasa. Mari kita coba..

#OneDayOnePost #TipsParenting

9 Cara Agar Anak Nyaman Curhat kepada Orang Tuanya
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: