Masterchef Jadi Inspirasi Melawan Malas Menulis

Masterchef Jadi Inspirasi Melawan Malas Menulis

Setiap hari sabtu dan minggu, aku selalu antusias menonton Masterchef. Dalam setiap tayangannya, aku belajar banyak hal dari kompetisi memasak itu. Wawasan tentang dunia masak bertambah, bagaimana ritme kerja dari seorang juru masak menunjukkan bahwa keberhasilan mereka didapat dari proses panjang. Dalam satu episode tayangannya, aku belajar tentang kerja keras, manajemen waktu, kekompakan, ketepatan, dan ketelitian yang berpengaruh pada hasilnya. Wajar saja, para peserta ingin tetap bertahan di galeri. Karena, semakin lama mereka berada disana akan semakin banyak ilmu yang didapat. Meskipun di balik itu, mereka mengalami tekanan, konflik antar peserta dan keletihan. Semua itu jelas terbayar dengan skill memasak yang semakin berkembang.

Tantangan memasak yang diberikan para juri memaksa mereka untuk berpikir cepat, tepat dan tidak gampang menyerah. Meskipun, banyak kesulitan menghadang dalam prosesnya. Namun, saat waktu sudah habis, nyatanya semua peserta dapat menyelesaikan tantangan.

Di balik perjuangan peserta, para juri yang expert di bidangnya ikut membantu mereka dalam mengembangkan keahliannya. Saran, kritik dan ilmu yang diberikan juri seolah vitamin yang membuat mereka bertumbuh hebat.

Lucunya, setiap kali menonton tayangan ini. Aku dan keluarga dibuat greget dan teriak-teriak menyemangati peserta favorit, haha.. Lalu, tak lupa ikutan berdebar dan terkejut atas kepulangan peserta tereliminasi.

Masterchef Indonesia season 7
Para Juri yang Elegan. Sumber : Rcti PLUS

Menulis dan Masterchef

reward for myself
Menulis lebih menantang dengan deadline

Perjuangan peserta di kompetisi memasak itu memberiku sedikit inspirasi. Seandainya, konsep kompetisi ini aku adaptasi dengan kegiatan menulis. Pastinya, akan banyak sekali peningkatan yang bisa dicapai. Menulis dan memasak memiliki kesamaan. Kedua keterampilan itu dapat berkembang jika diasah setiap hari. Selain itu, akan  terukur jika dilakukan dengan batas waktu/ deadline.

Dalam acara Masterchef, kehadiran juri menjadi sosok sentral yang menarik. Kehebatan mereka membuat takjub dan menunjukkan bahwa masak itu tidak bisa asal-asalan. Bukan sekadar oseng-oseng jadi, tetapi ada tahap dan teknik yang perlu dilewati.

Dari sana, aku jadi mengaitkan lagi dengan menulis. Untuk menilai sebuah tulisan, diperlukan ilmu dan jam terbang tinggi. Pengamatan seorang ahli penting untuk melihat kelemahan dan kelebihan si penulis. Semakin sering sebuah tulisan dilihat oleh ahlinya, maka ke depannya sebuah tulisan akan semakin bergizi. Oleh sebab itu, penulis butuh mentor yang bisa membimbingnya dari penulis amatir menjadi penulis profesional.

Melawan Rasa Malas Menulis

Malas
Masa mau rebahan terus? (sumber: pexels.com oleh RFstudio)

Ketika memutuskan menjadi penulis, godaan sering datang bertubi-tubi. Entah faktor eksternal maupun internal, menulis membutuhkan komitmen kuat untuk melakukannya. Karena menulis komitmennya dengan diri. Orang lain tidak akan tahu saat aku butuh konsentrasi menulis. Distraksi dari luar pun seringkali membuat mood nulis ambyar, hiks..

Kembali lagi ke Masterchef, ada hal positif yang didapat saat menontonnya.

Jika ingin sukses dalam satu bidang, nikmati prosesnya.

Melihat kegesitan para peserta seolah mengirimkan gelombang semangat kepadaku. Mereka dengan segala kesulitan yang ditemukan malah mendorongnya untuk kreatif. Menarik! Otak manusia justru lebih berkembang ketika tertekan dan kepepet. ya gak sih?

Lingkungan sekitar yang berlomba untuk menjadi terbaik, memicu kegigihan dan semangat pantang menyerah. Itu dapat aku rasakan dari rumah loh. Jadi melihat mereka yang berjuang mendorong aku juga untuk berjuang. Seandainya konsep Masterchef itu aku terapkan dalam proses menulis, Insya Allah, kemampuan menulisku akan semakin berkembang.

Menerapkan Konsep Kompetisi Masterchef dalam Menulis

Lalu bagaimana cara menerapkan konsep Masterchef untuk melawan malas menulis?

1. Membuat Tantangan Menulis

Aku suka dengan tantangan, biasanya kalau ada tantangan rasa ingin berjuang itu suka muncul. Dengan sendirinya, aku jadi termotivasi buat mengerjakannya. Seperti saat bergabung dengan komunitas menulis, tantangan membantuku melakukan dengan optimal. Walaupun, kelemahannya juga ada, aku cenderung terburu-buru. Tetapi, terlalu santai pun tidak membuat aku menghasilkan tulisan.

2. Batasi Waktu

Manajemen waktu harus digunakan untuk mengukur suatu pekerjaan. Bukan hanya memasak, menulis pun sama. Aku jadi terbiasa mengukur efektivitas dalam menulis. Selain itu, aku jadi lebih paham kapan waktu terbaik untuk menulis. Waktu dimana aku bisa fokus berpikir tanpa distraksi apapun.

3. Mentor

Kalau Masterchef ada juri, sedangkan aku punya mentor, hehe.. Bergabung dalam komunitas menulis, membuat aku mengenal orang-orang yang hebat. Dari merekalah, aku bisa belajar, berdiskusi dan meminta saran atau kritik untuk tulisanku. Peran mentor itu penting banget untuk melihat sejauh mana pengembangan diri kita.

4. Komunitas

Bergabung dengan orang-orang sevisi itu asik. Ketika sedang down, kita bisa cepat bangkit karena dikelilingi orang-orang yang mendorong lebih berkembang. Selain itu, kita mudah mendapatkan informasi sesuai dengan keahlian dari sana. Berada di circle penulis, membuat aku dapat mengukur kemampuan dan akan bagaimana di masa depan.

5. Fasilitas Mendukung

Melihat galeri Masterchef super lengkap, tidak hanya bahan melainkan peralatan, dapat mendukung seseorang untuk membuat hasil optimal dari masakannya. Begitu pun menulis, tulisan dihasilkan optimal jika didukung fasilitas mumpuni. Meski, gak selalu seperti itu sih. Tetap saja menulis lebih nyaman jika menggunakan laptop, riset lebih lengkap saat wifi stabil dan tulisan lebih kaya jika banyak referensi. Tetapi, fasilitas baik akan didapat berjalan dengan sendirinya kok. Kalau belum punya fasilitas mendukung, gak masalah, yang penting tetap berkarya. Semangat!

Dari sebuah acara televisi, aku belajar melawan malas menulis. Semoga ke depannya, semakin banyak tayangan mengedukasi yang menghibur seperti Masterchef. Tak lupa, aku berharap bisa semakin berkembang dan produktif lagi menulisnya.

#OneDayOnePost #MelawanMalas



Leave a Reply