Selain amarah, tak pernah ada rasa syukur yang terucap dari mulut Menik. Menurutnya dia mendapat kesialan karena mendapat menantu yang kurang ajar seperti Della. Anak lelakinya yang tersayang salah memilih pasangan. Saat kumandang azan dan matahari mulai memancar, Della masih asyik berselimut.

Percuma cantik, kalau malas.

Batin Menik menahan kesal. Setiap pagi, Menik merapikan dan menyiapkan makanan untuk Della dan Sahid. Anaknya setelah menikah,masih tinggal di rumah Menik,awalnya menik senang karena merasa rumahnya kini semakin ramai. Sayang, itu tak bertahan lama. Hanya sekejap perasaan berubah murka melihat kelakuan menantunya yang pemalas itu. Ternyata bukan saja tak rajin, tetapi kegiatan Della setiap hari yang sibuk memegang gadget, membuat Menik berpikir bahwa Della tak becus sebagai istri.

Suatu pagi, sepulang dari Pasar, Menik naik pitam melihat semua piring bekas makan dan gelas berantakan di atas meja makan. Lalu, tampak Della sedang menonton acara gosip di televisi. Jika piring kotor menumpuk, tak sekalipun dia mau mencuci, baju pun seperti itu menumpuk dan kotor. Merasa lelah sendirian, kadang Menik sering curhat dengan tetangga untuk sekadar menenangkan diri. Hari tuanya jadi sangat tidak menyenangkan.

“Si Della itu benar pemalas. Kenapa Sahid bisa cinta sama perempuan seperti itu ? Padahal di luar sana masih banyak perempuan lebih baik.” keluh Menik setiap hari.

Semua tetangga tahu, kalau Della adalah menantu pemalas. Hingga sampai ke telinga Della sendiri, namun dia memilih untuk tak menghiraukannya.

Della

Aku senang saat menikah dengan Sahid. Dia pria baik, tanggung jawab dan sabar. Dia pula pria yang menerima aku apa adanya. Aku bukan wanita sempurna, tapi dia mau menerimanya. Aku harap ibu mertuaku seperti itu.

Setahun berjalan kudengar bisikan tetangga tentang diriku, aku yang malas, kurang ajar. Aku tahu pasti Ibu tidak bisa menerimaku. Awal pernikahan, aku sudah membawa Mbak Intan untuk menjadi asisten rumah tangga. Tetapi, Ibu memulangkannya karena merasa tak bebas di dapur jika ada Mbak Intan. Lalu, dia hanya mau aku yang membantunya. Aku mencoba membantunya seperti yang dia mau, mencuci piring, baju, dan mengerjakan bersih-bersih rumah. Baru tiga hari, tanganku perih, gatal, dan muncul bintik seperti cacar air, jika itu pecah akan melebar ke seluruh jari. Rasanya sakit sekali. Minggu selanjutnya, aku siasati dengan sarung tangan. Cukup membaik tapi tak bertahan lama. Rasa enggan untuk protes pada ibu membuatku mengadu pada suami. Lalu, suamiku bicara pada ibu. Tapi, ternyata dia tetap tak percaya dan belum menerima. Dari kecil, aku memang memiliki alergi kulit. Apalagi jika terkena sabun kimia, muncul gatal dan bintik pada jemariku.

Aku hanya tersenyum saat melihat tetangga memandangku dengan sinis. Percuma merutuki mereka, keadaannya hanya aku dan suami yang tahu. Kupandangi sebuah lingkaran berkilau, aku harap benda ini cukup membuat Ibu senang. Lingkaran kecil ini akan membuat jemari Ibu indah, karena aku tahu sudah lama Ibu menginginkannya.

#CerpenMini

Tak Ada Syukur Hari Ini
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: