But we’re born as children and we look at the world with open eyes..And we don’t judge and we don’t betray. we’re not jealous. we’re not even weary, which is a danger also as kids. they have to learn a certain amount of awareness

(Collin farrel)

Saat si kecil bermain, banyak hal yang bisa dipelajari anak yang sebetulnya tidak diketahui orang tuai. Mereka ‘belajar’ secara alami lewat pengalaman yang mereka dapat dari bermain itu sendiri seperti meloncat, berjoget, bersembunyi, bermusik, membangun benda, meruntuhkan benda, menjatuhkan barang dan masih banyak lagi. Mereka mempelajari berbagai keterampilan saat bermain.

Apa saja sih tahap belajar yang mereka lalui lewat bermain? Ini dia jawabannya

#1. Usia 0-1 Tahun

foto : pexels.com

Saat Bayi, anak akan belajar melalui Panca Indera. Mereka mengeksplor segala sesuatu dengan cara melihat, mendengar, menyentuh, mengecap dan mencium.
Aku kadang suka greget lihat anak mengemut benda yang ada di sekitar mereka, apa saja dimasukkan ke mulut. Takutnya kotor dan kuman masuk. Atau ketika bisa menggenggam, si bayi berusaha memegang benda apapun yang bisa mereka raih.

Padahal itulah saat belajar mereka. Selama mereka mengeksplor, di saat bersamaan otaknya bekerja untuk menyimpan informasi tersebut.
Bahkan di saat anak bermain bersama dengan kita, mereka pun belajar mengetahui emosi yang dirasakan seperti rasanya dicintai, diterima dan disukai.

Cara terbaik untuk mendukung proses belajar mereka pada usia ini adalah dengan cara membiarkan sambil mengawasi apa yang sedang mereka eksplor. Berikan mainan yang sesuai dengan usianya. Lebih baik lagi berikan mainan yang melatih kelima inderanya. Oh iya, Jangan lupa juga berusaha tetap sabar!

#2. Batita (Bayi di bawah tiga tahun)

Di usia ini anak akan terdorong untuk terlibat dalam permainan. Meniru apa yang didengar, diucapkan dan dilakukan orang di sekitarnya. Mereka sudah mengenal berbagai macam emosi  namun belum memahaminya. Rasa keingintahuannya pun lebih besar.

Untuk mengekspresikan sesuatu yang tidak mereka suka, seringkali anak tantrum berlebihan, marah, teriak dan menangis jadi satu. Pusing? pasti.
Nah, disinilah kesabaran kita diuji. Keinginan anak untuk mandiri sangat kuat namun kecakapan fisiknya belum mendukung. Segala hal seperti berjalan, berlari, melompat, memanjat, meraih dan menjelajah dilakukannya. Karena khawatir kita mulai melarangnya untuk melakukan ini-itu.

Inilah saat dimana para batita belajar. Kadang kita dibuat pusing dan takut sendiri melihat mereka, sehingga secara spontan kita mulai berkata “jangan”.

Seperti yang kita tahu, ternyata kata “Jangan” menjadi kekangan dan penghambat buat mereka untuk belajar. terus gimana dong ya?

Cara terbaik untuk mendukung proses belajar mereka di usia ini adalah mengganti alternatif kata positif dari kata jangan.

Beri tahu hal apapun dengan kalimat atau ajakan yang positif. Lalu untuk memberi pemahaman mengenai emosi pada batita bisa melalui mainan-mainan edukatif atau mengajak anak ke kebun binatang, taman dan tempat dimana mereka dapat belajar dan mengeksplorasi.

#3. Balita (Bayi di bawah lima tahun)

Imajinasi terbentuk kuat pada saat balita. Mereka belajar melalui dongeng, cerita, dan televisi. Kegiatan bermainnya pun lebih ke permainan yang mengasah kemampuan motorik seperti mewarnai, menggambar, menari, menyusun lego, bermusik dan membuat karya atau kerajinan.

Sudah mulai fokus dengan teman-temannya  dan aktif berinteraksi saat bermain. Masa ini biasa disebut Golden Age.  Anak sedang pintar-pintarnya karena otak sedang berkembang dengan pesat, dapat menyerap ilmu apapun dalam waktu singkat.

Peran orang tua di posisi ini sangat dibutuhkan. Kita bisa melihat potensi yang menonjol dari anak kita. mengembangkan dan melejitkan potensi mereka.

Namun, hati-hati! Terkadang saking inginnya kita melihat anak sukses selagi dini bukannya menstimulasi anak, justru malah bikin anak menjadi overstimulasi.

Sebaiknya kita melihat posisi anak sebagaimana diri kita. Tetap seimbangkan antara bermain dan belajar. Ingatlah bermain bisa jadi belajar. tetapi belajar belum tentu bermain. Belajar memang baik tetapi tetap sesuaikan porsinya dengan usia.

#4. Usia sekolah dasar

foto : pexels.com

Cara belajar alami anak di usia ini mulai bergeser menjadi permainan yang memiliki aturan seperti main bola, main kartu, petak umpet, olahraga beregu dan masih banyak lagi.
Dalam permainan ini, kemampuan berpikir strategi dan berinteraksi nya terasah. Sebetulnya kalau diamati, kegiatan bermain pada usia ini bisa menjadi dasar untuk hobi dan minatnya ke depan.

Cara terbaik untuk mendukung anak adalah dengan mengarahkan mereka untuk pintar membagi waktu antara aktivitas belajar dan bermainnya, membiarkan anak belajar kooperatif dengan teman untuk menyelesaikan masalah, dan tidak terlalu menuntut mereka di bidang akademis.

#5. Usia Remaja

literasi digital
Bermain pada usia ini sudah mulai berkurang. Mereka mulai mendeteksi minat dan hobi mereka. Tuntutan lingkungan sekitar mempengaruhi pilihan seperti mode, olahraga, hobi, dan teman-teman .
Disinilah usia dimana anak mudah terpengaruh. Mereka mulai belajar untuk membuat keputusan, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil.

Apa yang harus dilakukan orang tua saat anak masuk usia remaja?

Jawabannya adalah Bantu anak mempelajari dan memahami diri sendiri. Jadikan rumah penuh kedamaian dan jadilah orang tua yang pengertian.

Itulah kelima tahap belajar alami anak yang bisa kita pelajari. Semoga kita bisa lebih mengerti cara belajar dalam bermainnya anak, dan bisa memberikan support  untuk tiap tumbuh kembangnya. Jadi moms, yuk dukung sesuai fasenya!

#OneDayOnePost #Parenting

 

Sumber:

buku : Yuk, Jadi Orangtua Shalih! Sebelum meminta anak shalih – Ihsan baihaqi ibnu bukhari

Tahap Belajar Anak yang Perlu Orang Tua Tahu
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: