Suara takbir menggema keras, di belakang sebuah gedung rumah sakit. Aku tersadar, harusnya saat itu sedang berada di dapur menyiapkan opor dan ketupat. Namun, kali ini berbeda. Aku hanya merasakan lapar yang tidak tertahan setelah selama dua jam berjuang antara hidup dan mati.

Seratus dua puluh menit kalau tidak salah, aku memasuki sebuah ruangan dibalut pakaian hijau muda. Rambut tertutup dan tubuh merebah di atas ranjang beroda. Kulihat wajah dengan dahi mengkerut, kedua alis meninggi dan tangan kanan yang dikepal menutupi mulut. Senyumnya menyungging terpaksa, namun kecemasan pada wajahnya tidak memudar.

“Doain ya, Sayang.” ucapku pasrah. Wajahnya menghilang diantara dua daun pintu.

Helaan nafas mengiringi keempat roda yang membawaku menyusuri ruangan lain. Sebuah ruangan yang lengkap dengan peralatan berbahan stainless dan steril. Bau menyengat menunjukkan kekhasan ruangan ini. Beberapa dokter sudah menanti dengan pakaian kebesarannya.

Beberapa menit berlalu, percakapan tentang film conjuring menjadi latar belakang suasana dalam kamar serba putih yang dominan. Kedua mataku menyusuri ruangan yang diujungnya terdapat speaker dengan lagu beatles yang diputar. Suasana tegang perlahan mencair seketika. Namun, tak bertahan lama saat memandang seorang dokter senior berparas Arab bersiap memegang peralatan operasi.

“Baca doa, yuk Bu. Santai aja ya.” ucapnya berusaha menenangkan.

Tak lama kedua dokter lainnya berada di samping meja operasi, sebuah jarum panjang mulai disuntikkan di tulang punggung bagian belakang. Rasa sakit menjalar dan berganti pegal hampir bersamaan. Kepala mulai pusing dan mendadak dorongan mual datang dan tak sanggup aku tahan.

Cairan asam keluar dari mulutku, ditambah rasa dingin perlahan merambat ke dalam tubuh. Badan bergetar, dingin. Aku tidak merasakan bagian tubuh mulai dari perut hingga ujung kaki. Sesekali, aku melihat dokter seperti sedang menggoyang bagian perutku dan mengorak arik isi perut. Darah yang menempel di peralatan operasi membuat pilu.

Bagai mengambil bola besar di tumpukan bola-bola kecil, sang dokter mengangkat sesuatu yang dari dalam perutku. Disusul suara pecah terdengar sangat keras. Suara yang entah mengapa mampu mendorong air turun di kedua pelupuk mata. Aku sesegukkan. Dia sudah hadir dalam masa penantianku sembilan bulan.

Seorang perawat memperlihatkan bayi mungil dan menempelkan wajahnya di hadapanku. Kutatap penuh haru bayi pertama perempuan yang amat merah. Tak lama, dipanggil nama ayah dari si bayi mungil dan suara azan dibunyikan pada daun telinganya.

Seiring tangisan keras terdengar pula suara takbir secara bersamaan. Malam takbir telah menjadi saksi lahirnya buah hatiku yang kusematkan nama Shaluna Sabeen.

Kejadian enam tahun lalu terlalu membekas di hatiku.

Barakallah fii umriik Shalu, Jadilah anak yang sholeha sayang..

Barakallah fii umriik Shaluna
Shalu saat ini (foto: dokumentasi pribadi)

 

#OneDayOnePost #ODOP #ODOPChallenges5

 

Suara Takbir yang Menjadi Saksi
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

4 thoughts on “Suara Takbir yang Menjadi Saksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: