Dia tetaplah manusia pelit. Meski, kini menjelma menjadi dermawan. Di hatinya tak sedikit pun berubah. Dia tetap sama. Manusia pelit.

Gia memandang dompet panjang berwarna cokelat yang semakin kusam. Wajahnya sendu, matanya turun karena menahan berat air yang membendung pada kelopak matanya. Sudah tak tersisa koin dan lembaran uang kertas disana. Perutnya terus meronta ingin diberi makan, hingga semakin lama energi di tubuhnya terkuras dan badannya bergetar tak berdaya.

Bukan dia tak punya keluarga, bahkan dia miliki seorang adik yang cukup mampu. Adiknya memiliki pekerjaan, suami yang mapan dan bahkan pakaian layak dan bergonta-ganti. Tina, bergaya hidup mewah masuk keluar restoran, bahkan tas di lengannya tak terhitung berapa nilainya bagi Gia.

Tapi, lebih baik kelaparan daripada meminta belas kasihan apalagi dipandang sebagai pengemis. Pernah suatu kali Gia tak tahan menahan derita, dan mengadu pada saudaranya namun ucapan Tina selalu sama.

“Sama, aku juga tak punya uang, banyak kebutuhan, belum lagi harus bayar bla bla bla.” Ucapnya, cukup membuat hati Gia miris. Bahkan untuk urusan makan pun dia masih merasa kurang. Dia tak melihat bagaimana hidup Gia yang sedemikian susah semenjak Ibu dan Ayah pergi. Pendiriannya kuat, sejak saat itu tak akan pernah dia datang meminta bantuan pada Tina lagi.

Hidup menjauh dan berjuang sendiri. Syukur, akhirnya Gia dapat bekerja sebagai karyawan minimarket. Dia bisa mandiri dan sedikit demi sedikit mulai menabung. Meski, sering di akhir bulan dia kehabisan uang dan sering pula tabungannya terpakai.

Sudah lama dua bersaudara itu hidup berpisah satu sama lain. Tina sepertinya menikmati hidupnya tanpa rasa bersalah, bermewahan dan tanpa mengingat sedikitpun kakaknya yang susah. Dia terlena dengan gelimang materi.

Sebaliknya, Tina mampu berdiri meski terlunta. Namun dia telah bangkit dengan kesederhanaan. Hingga suatu hari tanpa sengaja Gia melihat Tina di televisi, mendampingi suaminya yang semakin sukses menjadi pejabat. Ada rasa bangga di hatinya. Hari-hari berikutnya pun, dia semakin sering melihat Tina. Kini, dia tampak berbeda dan peduli. Seringkali tak segan mengeluarkan dana untuk korban bencana atau menjadi donatur untuk yayasan panti asuhan. Itulah yanh mendorong Gia untuk datang mengunjungi Adiknya itu untuk sekadar mengucap selamat atau silaturahmi. Gia bangga adiknya yang hebat kini menjadi dermawan.

Datanglah Gia ke rumah Tina yang mewah bagai istana. Semuanya terjamin disana, Pagar rumah yang tinggi cukup membuat Gia kesulitan. Bahkan, Gia diusir karena disangka orang minta sumbangan. Setelah sedikit menjelaskan barulah security percaya. Gia diantarkan masuk ke dalam rumah.

Seorang wanita dengan rambut yang terurai menghampiri Gia. Dia memandang rendah seakan Gia datang untuk merampas semua hartanya.

“Ada apa datang kemari?” tanyanya tanpa basa basi.

“Selamat Tina, sekarang kamu semakin sukses.” jawab Gia dengan senyuman manisnya.

“Oh,ya. Bagaimana kamu sekarang? Tinggal dimana?”

“Aku kost dekat tempat kerjaku sekarang.”

“Bagus, memang setiap orang harus bekerja supaya bisa mandiri.”

Suasana dingin dan canggung membuat Gia menyesal, Gia merasa tak harus berlama-lama, sebaliknya dia baru sadar karena ternyata dia salah ambil keputusan.

#Fiksi #Cerpen

Sedarah Terpisah
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: