Setelah Tono pergi, Tini kembali melanjutkan drama korea yang sempat tertunda. Tapi, mata dan pikirannya saat itu tidak menyatu.

Pikiran negatif terus membayangi dan membuat hatinya cukup memanas. Teringat sikap Tono yang lembut dan tak pernah banyak menuntut. Meskipun, dari rahimnya belum berhasil menghadirkan keturunan.

Penasaran, Tini coba menelepon Tono. Sedetik, dua detik hingga enam puluh detik berlalu tak ada jawaban darinya. Pesan pertama sampai pesan kelima pun tak terbaca oleh Tono. Kini, kekesalannya memuncak. Dia raih kunci motor kesayangannya dan berniat menghampiri Tono, di kantornya.

Belum terlalu jauh dari rumah, Tini seperti melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu minimarket. Diurungkan niatnya untuk menghampiri Tono. Insting detektifnya tiba-tiba muncul, dia ingin menyelidiki Tono untuk mendapat banyak bukti.

Di ujung gerobak gorengan yang hangat dan mengepul dia coba meneliti dari kejauhan. Malam itu, Tono seperti membawa banyak Makanan ringan. Lalu, di kantong sebelahnya ada beberapa minuman. Dengan motor besar kesayangannya, Tono melaju cepat menembus angin yang menerpa wajah, dingin.

Hingga motor garang itu berhenti pada sebuah rumah sederhana yang bercat cokelat. Dari rumah itu seorang wanita muda mengenakan hijab, kaos panjang dan rok hitam. Menyambut Tono dan membantu membawakan kedua kantong itu. Tono tersenyum, begitupun sebaliknya si wanita. Bagai tersengat listrik hati Tini tersetrum sakit oleh rasa kesal yang bertubi. Pemandangan paling buruk yang pernah dia lihat.

Ternyata Bapak selingkuh. Batin Tini berteriak tak terima. Namun, dia tak cukup berani untuk mendamprat perempuan itu. Keadaanya kacau, dan rasanya dia hanya butuh menangis di suatu tempat yang sepi. Dia berbalik arah dan mengemudi motornya pulang. Sepanjang jalan, Tini berterima kasih pada gelap malam yang membuatnya bebas menangis tanpa harus terlihat.

Sesampainya di rumah, Tini terus membayangkan Tono. Pria itu memang tampan, tanpa bergaya pun dia sudah terlihat keren. Tak hanya perhatian, dia juga sering membantu Tini mengerjakan pekerjaan rumah. Betapa baiknya, suaminya itu. Tapi, kenapa dia harus menyadarinya saat sudah terlanjur kecewa? Malam itu, Tini menangis hingga tertidur.

“Ma, bangun ayo.”

Sebuah ciuman lembut mendarat di kening Tini. Tak ada reaksi dari Tini, Tono mencium pipi kanan dan kiri. Tini bergerak berganti posisi, dan mengabaikan Tono. Matanya sembab karena semalaman menangis. Entah jam berapa Tono pulang, Tini terlelap karena letih.

“Ayo kita ngopi, Ma.” Ajak Tono.

Tini menggeleng, dan malas menanggapi, menarik bantal gulingnya kembali. Melihat istrinya seperti itu dia tahu betul Tini ngambek. Segera di ajaknya Tini keluar kamar. Namun, apa yang dia lihat di ruang tamu membuatnya makin emosi. Perempuan berhijab kemarin yang dia lihat di depan rumah ada di rumahnya. Tini langsung sadar dari alam mimpinya. Baru saja, dia akan marah tiba-tiba wanita itu datang membawa sebuah kue bulat dilapisi cokelat.

“Mbak, selamat ulang tahun pernikahan ya.” ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Wanita itu membawa tiga anak kecil yang lucu-lucu, usia sekitar 2-3 tahun.

“Apa ini ?” Teriak Tini.

Tanpa diduga Tini, malah bertambah marah.

“Gimana bisa Bapak, bawa perempuan selingkuhan kesini ?”

Mata Tini menyala. Tersulut api emosi, bahkan rasanya tak sudi memandang wanita tadi dan suaminya sendiri. Tono menoleh ke arah si wanita, lalu tertawa. Dipegangnya tangan tini, namun tini menolak.

“Ma, kenalin nih,Disa namanya. Dia kakak dari adik-adik ini. Untuk pertama kali, Bapak bawa supaya Mama tau, kalau Bapak memutuskan untuk punya anak asuh.” Jelas Tono.

Tini tercekat mendengar penjelasan Tono. Mukanya memerah dan bercampur bingung.

“Allah memberi kita kelebihan rezeki, tapi belum memberi kita anak. Bapak yakin kalau ada rezeki mereka di dalam rezeki kita.”

Tini terdiam memandang Tono, lalu beralih memandang Disa dan adik-adiknya. Rasa iba dan terharu perlahan muncul memenuhi rongga dada. Tono datang mendekati Tini, memeluknya hangat.

Kali ini dipegangnya perut buncit Tono, di rabanya jambang yang merambat di pipi, di pencet hidung bangir sang suami. Lalu dengan lirik Tini berkata,

“Terima Kasih, Priaku yang dulu pernah tampan.”

#CeritaPendek #Fiksi

Pria yang Dulu Pernah Tampan
Tagged on:                 
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: