Rumah kencana, begitu aku menyebutnya. Aku dan ketiga temanku, tak pernah mau memasuki rumah aneh itu sejak kejadian seminggu lalu.

Seorang wanita berusia 50 tahunan, duduk bersimpuh dengan mengayunkan kedua tangan. Gerakan tangannya lembut, meliuk-liuk, memperagakan gerakan khas penari. Lambat laun, suaranya berubah. Menjadi lembut seperti bukan suara aslinya. Dari gaya bicaranya yang tak dapat kupahami, aku tahu wanita tua itu kerasukan.

Ada yang janggal pada kejadian di depanku. Ibu Atik yang sedang berbicara pada kami, menyisipkan gerakan tarian pada setiap kata dari mulutnya. Dia tampak berbeda. Kucolek temanku yang berada di sebelah, kami saling memandang untuk beberapa saat.

Aku mengalihkan pembicaraan dan mencari cara untuk segera pamit dari rumah itu, namun temanku tertunduk lesu sambil memegang tengkuk lehernya seperti menahan beban.

Ada yang tidak beres, kulihat ke seluruh ruangan dalam rumah yang sederhana. Lantainya beralas kayu usang, tak ada kursi tamu, kami pun duduk di lantai. Tepat di depanku ada sebuah ruangan yang dikunci dari luar. Terlihat dari gemboknya yang berkarat. Di seberang ruangan itu, tampak sebuah ruangan lain yang diberi pembatas sebuah gorden dengan panjang menggantung. Sontak aku terkejut, melihat isi ruangan yang penuh bunga, lilin dan berbagai sesajen di sela celah tirai. Kurapalkan ayat kursi berkali-kali, namun di tengah ayat tiba-tiba hafalan ayat kursiku menghilang. Lupa, ngeblank, tapi aku tak menyerah, kuulangi lagi bacaan ayat kursi, meski lupa berkali-kali menghadang.

Dari balik tirai, muncul seorang lelaki, tersenyum tipis memakai kaos singlet putih dan celana pendek. Tak lama, dia pun keluar sambil menghisap sebatang rokok. Bersikah acuh, dengan kehadiran kami.

Semakin lama, ibu Atik semakin aneh, gerakannya menjadi-jadi, lebih gemulai, lebih lentur, seakan sudah sering melakukan tarian. Keluar bahasa aneh pula dari mulutnya, bahasa sunda lemes yang sangat kuno. Aku semakin tak mengerti dengan ucapannya. Tak menunggu lama, kutarik dua orang temanku keluar rumah itu tanpa pamit. Aku beranjak melewati lelaki remaja yang menunduk saat dilewati.

Sepintas aku melihat Ibu Atik masih menari, keluar nyanyian yang membuatku merasa pilu dan takut, dia bernyanyi duduk tak beranjak dari tempatnya.

#OneDayOnePost #Cermin

Misteri Sebuah Rumah
Tagged on:     
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: