Seorang wanita yang selalu memandang semburat jingga pada waktu senja tampak berbeda hari ini. Semakin lama dandanannya terlihat lebih berani. Rambutnya sudah berubah warna menyerupai bule. Pirang, panjang, dan lurus terurai.

Jika angin membelai helai rambut, tercium bau wangi menggoda yang menyeruak ke udara. Pipinya memerah bukan karena malu, tetapi karena polesan perona yang dia tambah berkali-kali.

Tak lupa bibirnya mengkilat seolah memantulkan cahaya. Sengaja dia tonjolkan kulit hitam manisnya agar terlihat eksotis.

Kini, pada waktu yang sama, dia terbiasa berada dekat jendela menanti pria yang membuat dadanya bergelora. Pria berkarisma itu telah membuat cintanya tak terbendung. Segala upaya dia lakukan demi mendapat cintanya.

Siulan dan godaan lelaki yang melintas depan jendela membuat perasaannya bagai di awang-awang. Dia yang merasa kembang desa. Tak ada satu pria pun yang menolaknya. Dia yakin kecantikannya adalah yang paling sempurna.

Ternyata tingkah wanita bernama Desi ini selalu membuat gundah tetangga sebelah rumahnya. Anya, seorang wanita berhijab yang sudah lama berkawan dengan Desi. Tampak berdiri di depan pagar rumahnya.

Tak lama, terdengar deru dari knalpot sebuah motor tua yang sudah usang. Telinga Desi menangkap bunyi khas itu dan segera dia sisir rambut yang sudah rapi dengan jemarinya. Pujaan hatinya akan melewati depan rumah. Jantung berdegup tak karuan.

Dugaannya tepat, seorang Pria berwajah campuran jerman-sunda itu melintas dengan motor bututnya. Hidungnya mancung, bibir tipis, dan kedua mata yang cekung membuatnya terpesona. Dengan suka cita, tak sungkan dia sapa pria itu dengan suara yang paling manja.

“Kang Asep, udah pulang ? Mampir dulu kang, aku baru buat kue bolu ketan. Mau cobain ?”

“Makasih Des, lain kali aja.”

“Aku anterin ke rumah ya Kang, biar bisa cobain.” Bujuknya.

Asep menggeleng dan mencoba menolak dengan halus. Tak lama, seorang wanita datang menghampiri mereka.

” Assalamualaikum, Kang.” Sapa Anya dengan senyuman manisnya. Asep menjawab salam dan menatap Anya dengan tatapan penuh rindu.

Anya, seorang wanita sederhana. Wajahnya menyiratkan keteduhan. Kulit putih beningnya tertutup di balik pakaian gamis. Rambutnya yang indah tersembunyi dalam hijab. Tutur kata lembut menembus ke dalam hatinya. Tapi ada kegelisahan yang tampak dari wajahnya kali ini. Asep tahu apa yang sedang Anya khawatirkan.

Tak lama, Desi segera keluar rumah. Harapannya cuma satu, kesempatan bicara lebih lama dengan Asep. Tak dia hiraukan Anya yang berada disana. Dia yakin seteguh apapun seorang lelaki, tak ada yang mampu menolak pesonanya.

” Anya, nanti coba ya kue bolu ketan buatanku, nanti aku antar ke rumah.” Ucap Desi. Anya berusaha menolaknya dengan halus. Memandang ke arah Asep berharap dia tahu dan mau membantu menolaknya.

Desi berdiri mendekat ke motor Asep. Mencari cara agar bisa lebih dekat dengan pujaannya.

“Kang, mau ya. Anya tuh suka banget bolu ketan. Sebentar aku ambilin dulu ya di rumah.” Bujuknya lagi.

“Makasih, Des. Lain kali aja. Saya udah bawain kue buat di rumah.” Tepis Asep dan menarik lengan Anya untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Asep membawa motor ke halaman dan mengenggam tangan Anya, istrinya yang sangat dia cintai.

Memerah muka Desi seketika, jelas bukan karena polesan make up. Tetapi, karena amarah dan api cemburu yang berkobar-kobar. Sudah ke sekian kali dia menanti Asep pada waktu senja, mengharap dan menginginkannya.
Dalam hati dia merutuk kesal, tetap saja Anya yang selalu mendapatkan semua hal yang dia inginkan.

#OneDayOnePost #Cerpen

Merasa Kembang Desa, Ini Adalah Sebuah Cerpen
Tagged on:                 
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: