Tepat di hari ini, hari dimana seharusnya aku bahagia tetapi hanya bisa terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kembali ke usia tiga tahun
Gambar : Pexels.com oleh Tomas Williams

Gedung tua tempat aku menuntut ilmu, kini ramai dengan hiruk pikuk para siswa beserta orang tuanya. Pengambilan hasil belajar selama satu semester yang lalu menjadi hal yang ditunggu juga ditakutkan oleh siswanya termasuk aku. Bukannya gembira dan penasaran akan hasilnya seperti kawan lain aku malah dibuat takut.

Kembali ke tahun lalu, terbayang bagaimana marahnya bapak melihat hasil rapor nyaris tak ada tinta hitam di atasnya. Tanda lebam di paha dan lengan atasku adalah reaksi kekecewaannya. Wajahnya memerah antara malu, kesal seraya mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada tubuh kurus ini. Kalau bukan karena nenek yang menghalanginya, nyaris saja hantamannya mengenai kepala dan cukup mampu membuatku gegar otak.

Sebetulnya wajar bapak marah, karena aku harus tinggal kelas dan mengulang lagi. Tentu saja biaya sekolahku jadi bertambah dan sia- sia tetapi sesungguhnya bapak bukanlah orang yang membiayai sekolahku sepenuhnya. Penghasilan sebagai buruh tani serabut di kebun milik nenek, kadang upah buruh bangunan jika ada yang membutuhkan tidak pernah sampai padaku. Biaya sekolah sepenuhnya mengandalkan kiriman dari Ibu.

Sejak usia tiga tahun,aku sudah ditinggal Ibu bekerja di Taiwan. Berbekal harapan dan keinginan hidup lebih baik terpaksa Ibu meninggalkan aku dan adikku yang saat itu masih berusia setahun.

Karena nenek sudah tua untuk mengurus balita pada akhirnya, adikku dititipkan pada nenek dari ibu di Desa sebelah. Sering kulihat Bapak di waktu santainya asyik merokok dan ngopi. Di saat aku minta uang saku, pastilah bapak akan bilang tidak punya uang.

Nenek yang tahu keadaanku, selalu memberikan bekal untukku seakkan mengambil alih tanggung jawab bapak kepadaku. Biarlah, aku sudah terbiasa menahan semua sendirian. Sebagai lelaki, aku harus tangguh hadapi kenyataan. Kenyataan pahit memiliki seorang bapak yang tidak berguna sama sekali. Tetangga dan saudaraku yang paham keadaanku selalu merasa iba.

Beberapa kali mereka memergoki aku yang sedang melamun. Nyaris saja dalam setiap lamunan aku ingin meneteskan air mata. Kalau tidak ingin menjaga perasaan nenek yang sebagai pensiunan Kepala Sekolah, aku harus tampak tegar di matanya.

Sesaat mataku tertuju ke sebuah ruangan kelas 10A, seorang ibu dengan air wajah yang sumringah tampak puas dengan hasil belajar anaknya, berdiri Eva disampingnya, kawan perempuanku yang terkenal cerdas itu dipeluknya berkali-kali. Kebanggaan akan hasil rapor membuatnya tak sadar sudah membuka kumpulan kertas hingga nyaris lecek. Sementara dari ruangan berbeda, seorang kawan bernama Adi berdiri mematung di depan ayahnya bagai seorang manusia yang sedang menerima laporan dosa dari malaikat pencatat amal buruk. Wajah pasi menahan malu bersiap menerima amukan dari pria tua yang terlihat menunggu saat yang tepat untuk meluapkan emosinya.

Tak tahan aku menahan geli melihatnya, seketika kemudian aku bergidik takut. Takut akan hasil raporku sendiri. Aku pun tidak jauh berbeda seperti Adi. Jauh dari Ibu membuat ku kehilangan arah. Tak ada motivasi untuk menjadi cerdas seperti Eva. Toh, apa yang aku perbuat tidak akan membuat Bapak bangga. Sementara Ibu tidak pernah melihat hasil belajarku, tak pernah tahu keadaanku, tak pernah ada ketika aku sangat membutuhkannya. Seandainya Ibu tahu, aku tak membutuhkan uang kirimannya. Sosok ibu disampingku sudah lebih dari cukup, jika biaya sekolah membuatmu jauh dariku. Aku rela tidak bersekolah.

“ Jaka “ sebuah suara meneriakkan namaku
“ Mang Iwan?”
“Hayu, dimana kelasna?” dengan logat Sunda, dan terburu-buru mang Iwan, adik dari bapak datang menghampiriku.

Ternyata kali ini mang Iwan yang datang untuk mengambilkan Raporku. Sehari sebelumnya, memang dengan sengaja aku yang meminta mang Iwan atau istrinya yaitu Teh Anti untuk ke sekolah. Aku masih trauma dengan kejadian tahun lalu. Sementara nenek sudah terlalu lanjut untuk menghadapi keadaan yang mungkin saja pahit dari hasil rapor itu. Ketika memasuki ruangan, dan menunggu giliran tak henti- henti mang Iwan mengoyang- goyangkan salah satu lututnya. Entah cemas atau apa, wajahnya pun tampak tidak tenang. Ditanya ada apa Mang Iwan diam tak berkata.

Firasatku memang tidak meleset. Ibu Tina, wali kelasku dengan perlahan menjelaskan hasil proses belajar selama enam bulan belakangan. Dengan hati-hati namun tetap menusuk dan megguncang jiwa. Perempuan berkerudung hijau dan berwajah teduh membuat pernyataan mengejutkan. Tahun depan aku masih harus belajar di kelas yang sama. Di tingkat yang sama namun dengan kawan-kawan berbeda.

Tak tahan menerima kenyataan, bagai disambar petir aku merasa terpukul untuk kedua kalinya. Aku tak sanggup menatap wajah kecewa pamanku ini. Mengalirlah jua airmata yang sedari tadi kutahan- tahan. Bukannya marah Mang Iwan mengusap punggung dan mengajak aku untuk pulang.

Seminggu berlalu setelah kejadian itu, aku masih saja sering murung dan melamun. Rasanya tak ada lagi yang harus kuperjuangkan. Aku tak peduli dengan prestasi atau apapun. Aku memang produk gagal, umpatku dalam hati. Aku butuh ibu disini. Tak punya panutan, berusaha mandiri namun ternyata aku gagal bu..
Dalam sedih tiba-tiba kucium harum khas Ibu. Apakah ibu kembali? Berharap sangat akan kedatangannya kucari Ibu ke setiap ruangan. Sampailah mataku pada sosok yang sangat aku rindukan berada di pintu ruang tamu rumah nenek.

Dengan rasa rindu dan haru kupeluk Ibu yang kini tubuhnya semakin kurus saja. Tangisan sesegukan yang selama ini kutahan bertumpah ruah tak terbendung.

“Ibu..” kubenamkan diri di balik kerudung panjangnya yang sudah terlanjur basah. Ibu mengusap kepalaku berurai airmata.
“Nak.. Maafkan Ibu, Ibu bangga padamu.”
“ Tapi aku bu, Aku..tidak naik kelas lagi bu.”
“ Tidak apa kita mulai hidup baru. Mulai saat ini ibu di sampingmu melewati prosesnya ya Nak.”
Kupeluk kembali tubuh Ibu. Pelukan ini seakan membawaku kembali ke saat Ibu pergi di usiaku tiga tahun dahulu.

#Cerpen #TentangKeluarga

Kembali Ke Usia Tiga Tahun
Tagged on:                 
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: