Hujan datanglah telan amarah Ibu. aku mohon, bisik seorang gadis kecil.

CERPEN judul hadiah dari hujan

BRAK. Suara benda dibentur keras membuat gadis kecil bersembunyi di kolong tempat tidur, bergidik. Setelah dia kunci pintu kamar, air matanya mengalir deras. Dia tahu, dia sudah biasa, namun tetap jika ini terjadi. Tak kuasa baginya membendung tangis. Ditahan tangis yang pecah dengan telapak tangan. Jika terdengar bersuara, dia mungkin ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Seorang wanita, dengan mata melotot mencari gadis kecil. Setiap sudut tak luput dari pandangannya, darah mendidih naik ke ubun-ubun. Amarah bergejolak. Dilihat mainan kayu yang tergeletak di lantai, emosinya semakin menjadi. Dia banting apapun barang yang terlihat di matanya. Suara pecahan gelas dan mainan beradu memekakan telinga. Terdengar oleh gadis malang itu, dia mendekap erat beruang kesayangan. Suaranya bagai belati menoreh luka mendalam di hatinya.

Angin bersama gemericik air meniup jendela kamar gadis bernama Atya. Tak terasa, hari sudah senja. Dia terbangun karena kelelahan bersembunyi. Tak terdengar, bunyi barang yang membentur lantai. Suara memanggil-manggil namanya pun tak ada. Otot-otot mulai mengendur, dia melangkah mantap keluar dari persembunyiannya.

Oh, terima kasih hujan sudah menyelamatkanku. Bisiknya.

Keluar dari kamar, terlihat ibunya tertidur dengan keadaan kacau. Rambutnya berantakan, kulit tangan berdarah, dan serpihan kaca bercampur dengan mainan kayu berserakan.

Gelas mana lagi yang ibu pecahkan ? 

Atya membetulkan posisi tidur ibunya, menyelimuti dan mengobati luka tangan. Gadis berusia 8 tahun itu tampak sudah terbiasa. Selesai merapikan rumah, Hujan semakin deras di luar. Namun hati Atya justru semakin tentetram. Guyuran hujan menjadi terapi sendiri bagi Atya. Dia menikmati bunyi hujan, seolah membentuk nada, menetramkan jiwanya.

Dia tahu, hujan yang turun adalah penyelamat kala gangguan bipolar ibunya kambuh, gangguan itu sembuh sewaktu hujan. Sayang, Atya lengah. Dalam keadaan tenang, dia tak menyadari Ibunya datang, membawa sebuah vas keramik besar di kedua tanganya dengan amarah yang belum padam.

#CeritaPendek #OneDayOnePost #CerpenMini #Fiksi

Hujan Menelan Amarah Ibu
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: