Gara-gara prosesi patarik ayam bakakak, aku memutuskan berpisah dengan suami.

Sebagian orang mengira, kalau itu hanya sekadar ritual adat yang tak perlu diresapi maknanya. Nyatanya, semua kejadian sesuai dengan hasil prosesi. Siapa yang mendapat bagian yang paling besar, akan menjadi orang paling banyak mendapat rezeki. Semakin kejadian itu mirip dengan potongan besar yang kudapat.

Jalan dua tahun pernikahan, aku sudah mencapai posisi pimpinan cabang di sebuah bank swasta. Sementara, suamiku tak beranjak dari posisi pengajar honorer. Bukan karena malas, tetapi sudah mencoba berkali-kali tetap saja gagal pada ujian cpns. Bukan rezeki mungkin. Hingga akhirnya aku yang menutupi semua kebutuhan.

Bukan tak paham tentang saling mendukung, tetapi aku mulai lelah dan kesal saat suami tak mampu mencukupi kebutuhan kami. Bukankah itu pekerjaan kepala rumah tangga ?

Alita, anak perempuanku pernah berkata, “Ibu, kapan aku bisa makan masakan Ibu ?” ucapnya lirih. Aku menatap wajah lugu Alita, ada kerinduan pada bola mata indahnya. Seandainya aku mampu tak harus bekerja, sungguh aku ingin. Tapi kebutuhan keluarga kami bagaimana jika aku resign.

Perlahan tapi pasti, hubungan dengan suami mulai merenggang. Aku akui kehilangan rasa respect. Ribut dan seringkali adu mulut. Ah, aku mulai jenuh dan hilang perhatian padanya.

Dalam ruang persidangan, duduklah aku menghadap tiga orang pemimpin sidang. Salah satu yang memegang palu mengucapkan jika perceraian dikabulkan. Aku yang akan mendapat hak asuh Alita. Aku lega dan memang itu yang kuinginkan. Namun, keputusan akan dilakukan dua hari lagi.

Sepulang dari pengadilan, Alita menyambutku dengan senang, gadis kecil berusia satu tahun setengah yang tak tahu apa-apa datang membawa sebuah foto. Foto kenangan dua bulan yang lalu, dimana ada aku, Alita dan Mas Bayu di Taman Bermain.

“Bu, kapan kita main lagi sama Ayah ? Aku kangen. Ayah sama aku udah punya celengan, mau ajak ibu jalan-jalan nanti.” Ungkap Alita polos. Kemudian dia berlari, menuju ke kamarnya dan kembali dengan membawa sebuah celengan besar. Dadaku tiba-tiba bergemuruh, nafasku sesak dan perlahan egoku runtuh. Pelupuk mata tak lagi mampu menahan air yang membendung hingga basah kedua pipi. Kupeluk erat Alita, mencium ubun-ubunnya.

Kurogoh tas dan mencari gawai. Kuketik nama suamiku itu, aku meleleh teringat kebaikan-kebaikannya. Gara-gara Bakakak, keluargaku hampir hancur. Kini, aku sadar rezeki bukanlah akibat dari sebuah ritual, tetapi yang lebih penting, aku hanya ingin melihat wajah Mas Bayu detik ini.

#OneDayOnePost #ODOP #Cerpen

Gara-gara Bakakak
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: