“Ada binatang ajaib! Pak, ada binatang ajaib! Bapak kemari cepat!” Layar komputer terpaksa kutinggalkan. Setengah berlari,kugapai gagang pintu.

“Mana binatangnya?”
“Ini Pak, besar dan bisa terbang menjauh ke awan.” Tunjuk seorang anak perempuan berkuncir dua pada sebuah kupu-kupu besar dengan sayapnya yang hitam.
Aku pandangi kupu-kupu itu, mencoba menyelami pikiran Cita. Kedua sayapnya terdapat tanda hati yang indah berwarna kuning. Entah kebetulan atau tidak, aku pun merasa kupu-kupu itu memang unik, berbeda.

Menurut mitos cerita orang zaman dulu, jika ada kupu-kupu yang masuk ke dalam sebuah rumah, itu merupakan pertanda akan ada tamu istimewa yang berkunjung. Aku masih mempercayai hal itu. Sebenarnya berharap hal itu benar, karena biasanya sebuah kunjungan akan berakhir dengan rezeki. Itu yang amat dibutuhkannya saat ini.

Setelah memutuskan resign, kini tabungannya sudah menipis. Sementara kebutuhan hidupnya hampir tak terpenuhi. Lalu kedatangan kupu-kupu baginya menjadi sebuah pertanda baik. Memang, tak sepenuhnya mitos itu palsu, karena di lubuk hati, dia percaya jika tamu yang akan datang ke gubuknya adalah pembawa rezeki.

Sehari berlalu, pada saat angin sore berhembus sejuk mampir melalui jendela. Sebuah ketukan terdengar, membuatnya bangkit seketika. Seorang wanita jelita berdiri dan menampilkan senyuman yang membuatnya sedikit penasaran. Antara percaya dan tak percaya, Supar tampak terkejut hingga tak sadar matanya mulai perih oleh karena terpana melihat Kaila, kekasihnya dulu.

Kaila menyapanya dengan senyuman khas yang sudah dia kenali sejak 3 tahun lalu. Apa yang membuatnya datang kesini?

Sepeninggal istrinya setahun yang lalu, banyak hal yang Supar alami. Kemalangan datang bertubi, anak bayi nya sempat terlantar kala itu. Beruntung adik perempuan Supar mau membantu mengurus Cita, anaknya. Pekerjaan sebagai guru honorer sudah dilakoni semenjak sebelum menikah. Penghasilannya sering tak cukup, hingga dia mengambil sampingan dengan mengajar les dan privat. Ibu Supar yang sudah lanjut, menyarankan untuk menikah lagi. Tapi, Supar enggan. Hatinya terasa bagai diiris belati mengingat kematian istri yang dicintainya. Rasa trauma terus menggelayuti. Hanya satu keinginannya, membahagiakan Cita.

Namun, wanita yang kini berada di depannya membuat keyakinannya goyah. Rasa debar itu masih ada, hatinya berdesir. Perasaannya tak karuan, ada suatu yang mendorongnya, mengusik pikirannya.

“Assalamualaikum, Mas.” Ucap Kaila, lembut.

“Waalaikumsalam.” jawab Supar.

Selanjutnya situasi menjadi canggung. Mereka bingung dengan pikirannya masing-masing.

“Ayo masuk, Nak.” Suara ibu Supar, menyadarkan mereka.

“Iya Bu, terima kasih.” Jawab Kaila.

Memasuki ruang tamu sederhana yang dihiasi pot tanaman di sudutnya. Diraihnya punggung tangan ibu Supar, dan diciumnya takzim. Ibu Supar merasakan kecocokan melihat Kaila. Perempuan yang sopan itu telah mampu mengambil hati wanita sepuh ini.

Tak lama,dia segera pergi meninggalkan wanita jelita itu, memberi ruang untuk Supar dan Kaila. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, hanya suara tv yang menampilkan iklan terdengar. Ditambah suara kipas angin tua yang menggantung, namun memberikan kesejukan di hati mereka.

Sebuah kupu-kupu, kembali masuk dan hinggap di ruangan tamu itu. Supar kini tahu firasatnya tempo hari terjawab hari ini. Tapi apa maksud kedatangan Kaila hari ini ? Ucapnya menerka-nerka.

” Mas, gimana kabar Cita ? Udah lama sebetulnya aku mau kesini. Tapi baru sekarang aku berani datang kemari.” ungkap Kaila.

“Cita lagi diasuh Rani, aku ada jadwal les nanti siang Kaila. Ada apa ?” Tanya Supar. Sebetulnya dia ingin menanyakan mengapa hingga kini dia belum menikah, apakah masih ada namanya di hati Kaila?

Namun, urung. Tak etis jika di awal pertemuan, menanyakan hal yang begitu pribadi. Meski, dalam benak tiba-tiba dia berharap Kaila menjadi Ibu Cita. Dia hembuskan nafas panjang, takut harapannya malah membuat kecewa.

“Mas, sebetulnya sudah lama aku ingin datang kesini. Maaf untuk kesalahan aku dulu,Mas.”ucapnya lirih. Kaila memainkan ujung jemari seolah menyalurkan kegugupan. Supar memandang Kaila, masih ada ternyata rasa cinta pada wanita itu. Kalau saja dulu dia tidak mengkhianati cintanya. Akan berbeda cerita hari ini, tapi tak ada satupun yang mampu menebak takdir.

“Itu sudah berlalu, saya udah maafin kamu Kaila, memang jalannya harus gini.” Ucap Supar. Dalam hati dia merasakan sebuah harapan. Karena dia yakin, apa yang dirasakannya juga dirasakan oleh wanita jelita itu.

“Mas, terima kasih udah maafin aku.”Supar mengangguk dengan sedikit mengumbar senyum.

Tak lama, dia keluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Mas, kalau berkenan ditunggu kedatangannya minggu depan ya. Aku akan nikah sama Oki.” Sebuah undangan berwarna ungu muda dihamparkannya di atas meja. Tertulis inisial namanya bertinta emas pada sampul depan.
Entah bagaimana rupa Supar kini, tiba-tiba dadanya sesak. Hujaman belati seperti kembali menusuk hatinya. Kesedihan kembali dirasakan.

Wanita itu beranjak dari kursi setelah memberikan undangan itu. Lalu segera pamit pulang. Di balik pintu, berdiri Supar yang termenung menatap punggung wanita berambut cokelat dengan tatapan pilu.

#Cerpen

Firasat
Tagged on:                     
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: