Diselamatkan Ayat Kursi adalah cerita nyata yang aku alami ketika dulu bekerja di sebuah daerah pelosok yang kuberi nama daerah C wilayah U. Mengapa harus memakai inisial? Karena, untuk menjaga nama baik orang-orang yang berada di sekitarku dulu.

Baiklah, sekarang aku lanjutkan ya cerita kemarin. Bagi yang belum baca part sebelumnya, langsung saja klik kata pertama pada postingan ini. Selamat membaca!

Pikiranku malam itu tidak karuan. Banyak hal yang meresahkan hati, utamanya aku kasihan sama si mantan ini. Baru saja dia menelpon kalau akan tidur di mesjid dekat terminal. Tak lama, dia mengabarkan lagi kalau pintu mesjid dikunci, jadi dia menunggu di pelataran mesjid, hiks..

Aku murung, bingung harus bagaimana. Di dalam mess itu, ada sekitar 6 orang yang tinggal disana. Salah satunya adalah manager, atau atasanku. Kami yang tinggal di mess semuanya perempuan. Untuk beroperasi, kami disediakan empat-lima motor disana.

Aku mencoba bicara pada manager waktu itu, agar si mantan pacarku (suami kalo sekarang) itu boleh berisitirahat sebentar disana. Ya, setidaknya hanya sampai jam tiga subuh. Tapi tetap dia tidak mengizinkannya. Oh ya, disana aku bekerja sebagai wakil nya, saat itu aku berharap dia bisa melunak. Apalagi aku baru saja tiba. Tetapi, usaha itu nihil.

Rekan-rekan lainnya yang melihat aku merasa gak tega. Di dalam kamar mereka berbisik, akan mencoba untuk bicara kepada si manager. Kalau pun tetap gak boleh, setidaknya dia mengizinkan untuk menggunakan motor agar bisa melihat keadaan mantanku, hiks..

Dengan diantar 4 orang rekan, aku diizinkan keluar membawa motor untuk melihat sang mantan.

Alhamdulillah, si manager ini bisa sedikitnya memberi keringanan. Aku boleh keluar melihat keadaan si mantan dengan ditemani 4 orang rekan dan membawa tiga motor.

Seingatku waktu itu adalah pukul 22.00. Pertama kali, malam hari aku melihat daerah tempatku bekerja.

Sepanjang jalan, hanya sedikit rumah, itu pun masih daerah kantor. Selanjutnya aku cuma lihat pohon-pohon berjajar, jalanan naik turun, sepi. Hembusan angin malam agak buat bulu kuduk berdiri. Tapi dalam situasi cemas, aku gak terlalu mikir ke hal aneh-aneh.

Berusaha bersikap cuek aja. Selama di jalan, tidak ada satu pun motor atau mobil yang lewat. Lampu-lampu jalan minim dan berwarna kuning.

Terdengar suara air mengalir, karena gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas apakah itu air selokan atau apa. Tak lama, aku yang dibonceng di belakang, melihat sebuah jembatan besar. Saat itu aku menebak sedang melewati daerah sungai sepertinya.

Jalanan menanjak setelah melewati sungai. Rekanku yang menyetir, yang bahkan belum kutahu siapa namanya.

Dia bilang padaku, “Teh, baca-baca ya lewat jalan ini.” Tak lama dia pun komat-kamit membaca doa. Aku yang masih bingung, tidak mau tanya-tanya lebih banyak.

Melihat daerahnya, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Baca ayat kursi, cuma itu yang terlintas dan berharap Allah melindungi kami dan mantan pacarku.

Beberapa menit kemudian, kedua mataku menangkap sosok lelaki tengah duduk dengan mata terkantuk-kantuk di depan teras mesjid. Saat itu pula, hati seolah menjerit. Kasihan banget dia, pasti dia lapar dan capek yang sudah mengantar seharian.

Salah satu rekanku, mengusulkan untuk menggunakan motor menyusul mobil elf terakhir. Mereka tahu betul, kalau mobil elf itu terkenal lama ngetem. Perkiraan mereka, mobil elf masih mengetem di daerah X.

Dengan dibonceng si mantan, tiga motor akhirnya melaju super ngebut mencari keberadaan mobil elf terakhir. Sepanjang jalan aku cuma bisa membaca ayat kursi berharap menemukan mobil itu.

Tak lama, pencarianku membuahkan hasil meskipun ternyata kami pergi sudah sangat jauh dari kantor demi mengejar mobil. Gak apa sih, yang penting aku sedikit lega setelah si mantan berada di tempat yang aman. Fiuhh.. lega.

Diselamatkan Ayat Kursi
Pemandangan dari atas bukit di daerah U (Dokumentasi Pribadi)

Proses adaptasi di daerah, lingkungan dan kawan-kawan baru.

Manusia itu makhluk dinamis. Apapun perubahan yang terjadi dalam hidupnya, tetap saja lama-lama akan mampu beradaptasi.

Itulah yang aku lihat dari kawan-kawan satu tim di cabang daerah C. Selama disana aku dibuat salut dengan mereka. Sebut saja Mawar, Melati, Tulip, Lili dan Sedap Malam.

Mawar asli dari garut, Melati, Lili, Sedap Malam berasal dari Sukabumi. Tulip sendiri berasal dari Cirebon. Mereka bisa survive dengan keadaan yang super menguji kesabaran.

Setidaknya, ada 3 tantangan yang aku temui selama disana.

1. Lingkungan masih liar.

Seperti yang aku ceritakan, lingkungan disana masih sangat asri. Banyak hutan yang belum terjamah. Ada pula kebun-kebun yang masih rimbun. Akses jalanan yang full batu-batu besar yang sering buat aku keram perut selama perjalanan. Entah sih kalau sekarang, keadaan yang aku ceritakan ini tahun 2012.

2. Banyak kasus kriminal yang beredar.

Entah, berapa sering aku mendengar hampir setiap wilayahnya selalu ada kejadian kriminal terjadi. Lingkungan berupa hutan luas sering dijadikan tempat kejahatan oleh orang-orang jahat. Makanya setiap aku sedang berada di hutan. Tak pernah lepas aku mengucap ayat kursi. Karena, aku memang tidak bisa berlindung kemana-mana selain meminta perlindungan kepada Allah SWT.

3. Banyak kisah mistis yang terjadi disana.

Satu kisah yang benar-benar aku alami adalah ketika bertemu ‘titisan’ ratu pantai selatan. Memang, daerah C ini tak jauh dari pantai. Waktu itu, aku dan 2 temanku (Lili dan Sedap malam) mengunjungi rumah salah satu nasabah yang kebetulan berada di pinggir pantai.

Sebuah rumah yang terbuat dari kayu sederhana. Ketika masuk ke dalam rumah, terdapat dua kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Satu kamar dikunci dengan gembok dan rantai.

Pemilik rumah adalah seorang ibu paruh baya berusia sekitar 55 tahunan, yang masih terlihat sehat dan segar. Dialah nasabah kami waktu itu. Awalnya, kami mengobrol biasa. Tak lama, seorang laki-laki berumur 17 tahun keluar dari dapur rumah itu. Dia duduk di teras depan dan merokok dengan tenang.

Awalnya aku pikir remaja itu memang sedang tidak sekolah. Namun si pemilik mengatakan bahwa suaminya itu memang sudah tidak sekolah sejak menikah dengannya.

Aku ternganga.

Ternyata remaja itu adalah suami dari seorang ibu yang duduk di hadapanku. Berusaha bersikap biasa, tiba-tiba entah darimana asalnya terasa embusan angin kencang dan menyibakan sebuah tirai penutup pintu kamar yang satunya.

Lalu, aku melihat ada dua nampan berisi kendi, bunga-bunga, dan sesajen di atasnya di dalam kamar itu. Aku yang melihat itu, bergidik, merinding. Bibirku langsung membaca ayat kursi. Saking takutnya waktu itu, bacaan ayat kursiku tiba-tiba blank. Diulang berkali-kali tetap saja aku lupa lanjutannya.

Menyadari ada yang tidak beres, aku memberi kode pada kedua temanku agar segera pamit pulang. Tapi Lili, malah menunduk seperti orang yang tidak sadar. Aku berinisiatif pura-pura mendapat telepon agar bisa segera keluar dari rumah itu, hiks..

Tetapi, tak lama si ibu mendadak berubah nada suaranya, dia yang tadinya berbahasa Indonesia langsung menggunakan bahasa sunda yang sangat halus. Sampai aku gak paham apa yang dia bicarakan. Posisi duduknya pun berubah, dia duduk seperti sinden dan bicaranya mulai ngawur.

Rasanya aku mau kabur aja. Gelagat si ibu makin mecurigakan, ketika dia mulai bernyanyi dan menari persis seperti sinden. Tanpa pikir panjang, aku tarik Lili yang seperti orang tidak sadar keluar dari rumah itu, dibantu Sedap Malam. Aku membawa motor ngebut gak karuan sambil masih mencerna apa yang terjadi tadi. Sementara Sedap malam membonceng Lili di belakang motorku.

Akhirnya, aku memilih resign

Kejadian mistis itu benar-benar membuat aku berpikir terus hingga bulan keenam berada disana. Banyak hal yang kurang sreg. Aku merasa bukan ini tempat terbaik untukku berkarir.

Meskipun konsekuensi yang aku terima adalah ijazah yang ditahan hingga setahun dan harus membayar pinalti untuk menebus ijazahku sendiri. Aku optimis akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik enam bulan yang akan datang dibandingkan bertahan di tempat itu.

Dan aku benar-benar resign.

diselamatkan ayat kursi part 2
Satu-satunya tempat kenangan yang menjadi saksi, ketika aku sangat ingin pulang.

 

NB : Setahun kemudian, ketika ingin mengambil ijazah aku diselamatkan lagi oleh Ayat kursi. Aku berhasil mengambil ijazahku tanpa harus keluar uang sepeser pun. Selama proses menunggu aku tidak berhenti membaca ayat kursi hingga namaku dipanggil. Masyaa Allah.. Allah mengabulkan doa dengan melindungiku. Alhamdulillah

#Personalstory #OneDayOnePost

 

Diselamatkan Ayat Kursi Part 2
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: