Cerita ini bukan merupakan karya fiksi melainkan kejadian nyata yang aku alami sendiri.

 

Diselamatkan ayat kursi
Gambar : Pinterest (freeislamiccalligraphy.com)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Al Baqarah 255

 

Saat buntu dan pasrah, aku mencoba menguatkan diri dengan membaca ayat kursi. Masya Allah, aku merasakan keajaiban terjadi. Allah memang Maha Baik.

Tahun 2012 merupakan tahun yang penuh dengan pengalaman hidup buatku. Setelah menyelesaikan studi S1 pendidikan bahasa perancis di Universitas Pendidikan Indonesia, aku mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai karyawan di sebuah bank syariah.

Seperti fresh graduate pada umumnya, mencari pekerjaan bukan hal mudah. Terlebih jurusan yang aku ambil bukanlah bidang ekonomi semacamnya. Melamar pekerjaan menjadi proses panjang yang dijalani. Jujur aja, aku masih meraba-raba karir apa yang tepat untuk  aku geluti ke depannya. Kecenderungan untuk menulis udah ada tapi belum ada gambaran untuk menjadikannya sebagai profesi waktu itu.

Singkatnya, aku mulai coba melamar ke semua bidang yang menarik buatku. Dimulai dari perhotelan (ini karena ada pengalaman sebelumnya), stasiun televisi dan radio (aku dari dulu ingin jadi news anchor sebetulnya), bank (latar belakang orang tua kerja di perbankan), dan banyak lagi sampai aku lupa haha.

Mungkin jodohnya di Bank ya, Aku akhirnya lolos seleksi di bidang ini.

Penandatanganan Kontrak

Omongan adalah doa

Dulu, aku pernah mengucap ingin bekerja di tempat jauh yang seru dan nambah pengalaman hidup. Ternyata doaku terkabul. Saat penandatanganan kontrak kerja di Bank syariah tersebut aku kaget, senang, bingung karena ternyata aku ditempatkan di salah satu wilayah sangat jauhhh dan pelosok. Mendengar nama daerahnya pun aku gak kenal. Sebut aja daerah U. Lihat di peta, ternyata tempatnya ada di ujung daratan dan dekat dengan daerah laut. Baiklah, aku coba saja karena gak ada salahnya mencoba.

Ada yang lucu, ketika penandatanganan kontrak waktu itu. Penempatan masih disembunyikan dan kami para karyawan baru hanya ditanyakan bersedia atau tidak di tempatkan di seluruh indonesia. Namun, karena kantor pusatnya itu di Jawa barat. Maka penempatan akan disebar di daerah Jawa Barat. Lengkap dengan ijazah ditahan selama setahun. Waktu itu aku merasa tidak masalah dengan persyaratannya. Toh aku pun belum berkeluarga, dan memang aku sudah terbiasa merantau. Akhirnya, aku memutuskan menandatangani kontrak kerja.

Berada di daerah penempatan

Aku merasa bersyukur selama lima hari menjalani masa training di sebuah hotel daerah Bogor, semua berjalan lancar dan menyenangkan. Bersama teman-teman satu batch masa pendidikan, aku dikenalkan dengan budaya kerja dan bagaimana program karyawan di bank tersebut. Saking serunya, lima hari tak terasa cepat berlalu. Pada hari keenam, aku sudah harus berada di daerah penempatan dan mulai bertugas menjalankan profesi.

pengalaman bekerja

Sejujurnya, aku semangat banget waktu itu. Ternyata, petualangan baru itu dimulai!

welcome episode terrrrr di hidup

FAKTA 1 : Lokasi penempatan super jauh. Dari Bandung berangkat pukul 08.00 sampai lokasi pukul 22.00

Pertama kali kesana, aku mencoba menghubungi teman-teman satu kantor yang sudah lama bekerja disana. Dari bagian Hrd aku diberikan beberapa nomor kontak agar mendapat informasi tentang akses angkutan ke daerah itu. Karena tempatnya jauh, mantan pacar alias suami sekarang gak tega membiarkan aku kesana sendiri. Akhirnya, aku diantar dengan menggunakan bis menuju lokasi.

Tanpa disangka, tempat itu sangat pelosok sekali. Kurang lebih empat jam, aku sampai di terminal kota dan harus melanjutkan lagi menaiki mobil Elf selama 4 jam untuk sampai ke lokasi.

Tadinya, si mantan pacar mau antar sampai terminal kota aja. Tapi melihat angkutan elf yang isinya penumpang lelaki semua, aku merasa takut. Disana aku mulai merasa cemas, hingga tak terasa beberapa kali air mata menetes. Antara ingin balik lagi ke Bandung aja, atau maju untuk berperang (hehe).

Allah benar-benar Maha Baik. Keputusan untuk ditemani si mantan pacar memang keputusan terbaik. Ternyata, di dalam mobil itu memang isinya laki-laki semua. Belum lagi jalan yang dilalui harus melewati hutan, tebing terjal yang meliuk, dan minim pencahayaan. Selama perjalanan, aku tak sedikit pun terlelap, saking takutnya. Entah berapa kali aku tanya ke supir dimana wilayah C daerah U itu. Empat jam kemudian, barulah aku sampai di depan sebuah minimart A. Sedikit lega, melihat minimart itu. Setidaknya wilayah tempat aku tinggal dan bekerja tidak di hutan banget.

Aku dan mantan pacar pun turun dari Elf. Mual pusing dan letih udah bercampur jadi satu. Tak jauh dari situ, akhirnya kutemukan mess itu.

Masalah pertama

Rasa lega tak bertahan lama. Mess tempatku kerja itu ternyata juga dijadikan kantor pada siang hari. Maka, tidak boleh ada tamu dengan alasan apa pun menginap disana. Hiks..

Kebayang sedihnya, kasihan si mantan ini. Mau tidur dimana dia, penginapan pun agak jauh sekitar 10 km dari mess. Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan langsung pulang saja ke Bandung.

Ya Allah, kebayang perjalanan tadi aku udah pusing sendiri. Baru sampai, masa langsung pulang. Disisi lain, aku merasa ingin ikut pulang aja ke Bandung lagi. Saat itu, aku sedih tak karuan. Seolah merasa di buang ke tempat terpencil. Ini jaraknya gak dekeeeeet. Ditambah, angkutan Elf terakhir ternyata sudah jalan jam 20.00. Dia berusaha menenangkan, padahal dia juga gak tahu medan.

Dengan mencari ojek yang mungkin masih ada, dia mencoba mengejar mobil elf ke terminal. Harapannya masih adalah elf yang belum jalan. Kami berpisah, aku nangis gak tega. Sekitar 10 menit kemudian dia menelpon. Katanya, elfnya udah gak ada. Nanti elf yang paling pagi jam 3 subuh. Huaaa… ambyar rasanya.

Akhirnya dia beristirahat di mesjid dekat terminal.

NB: Cerita berlanjut ke part 2 ya!

 

#OneDayOnePost #personalstory

 

 

 

Diselamatkan Ayat Kursi (part 1)
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

11 thoughts on “Diselamatkan Ayat Kursi (part 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: