Adalah sosok memukau seorang pria tampan yang dielu-elukan semua wanita.

Gambar : Pexels.com oleh Tomas Williams

Angkasa Biru, orang-orang biasa memanggilnya Asa. Walau namanya berasal dari bahasa indonesia asli namun fisiknya jauh dari itu. Mata, hidung, bibir, pipi dan telinganya menegaskan kalau dia keturunan bule. Tapi saat dia bicara, logat sundanya khas dan tidak kaku sedikitpun. Justru tak pernah sekalipun terdengar bahasa inggris keluar dari mulutnya.

“Hello, Mister.” Panggil Euis, seorang gadis desa yang sudah bergaya kebarat-baratan.

Rambutnya di cat pirang kontras dengan kulitnya yang hitam. Pakaiannya mini hingga angin mudah masuk keluar. Berusaha menggoda si tampan yang entah melirik pun tidak. Mendengar kedatangan bule, dia tak mau kehilangan kesempatan. Barangkali, ambisi terbesarnya menikah dengan bule bisa terwujud, pikirnya.

Asa memang baru saja tiba di Desa S untuk mencari sosok ayah kandung yang katanya berasal dari sana. Kedatangannya membuat heboh warga desa, pemandangan yang jarang terjadi.

Ada bule ! Ada bule !

Beberapa orang menghampiri untuk bersalaman dan bahkan berfoto. Hingga Asa dibuat bingung karena dia tak pernah disambut seheboh itu.

Berbekal informasi dari pengasuhnya dulu. Dia diberikan alamat yang berada di Desa S. Sejak lahir, orang tua Asa memilih berpisah entah karena alasan apa. Lalu menjelang remaja, Asa sudah tinggal di Bandung bersama sang kakek. Asa tetap memilih tanah air karena sudah terbiasa dengan budaya dan lingkungannya meskipun ibunya yang asli Belanda, memilih untuk menetap di negara asal.

“Bapak Sutis ? Oh, itu caket mesjid At-Taqwa ada rumah reyot sebelah kiri. Itu teh bumina Bapak Sutis.” Ucap seorang warga, ketika ditanya oleh Asa.

“Tapi ada Pak ? Pak Sutisnya ?”

“Ada, tapi atos sakit-sakitan.”

“Sakit apa, Pak ? “

“Lumpuh, mister. Udah lama.”

“Terima kasih Pak, informasinya. Saya langsung kesana ya.”

Setelah berpamitan, tak sabar dia segera menuju tempat yang dicari. Benar saja, tepat di samping mesjid, rumah ayahnya berada. Sebuah gubug reyot dengan plafon rumah yang pendek membuat Asa menunduk waktu memasuki rumah tua yang apabila ditiup angin sedikit tampak akan roboh.

Di sebuah ruangan tamu sempit, terdapat dua buah topi merah  yang berjajar di dinding, tepat di sebelah pigura-pigura usang, kedua mata menyusuri setiap foto hingga pandangannya terhenti pada sebuah potret seorang anak bayi, yang dipangku memakai baju kodok. Dia tahu betul, anak itu adalah dirinya saat kecil.

Tak lama, seorang wanita paruh baya menyajikan minuman teh di sebuah gelas bening. Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya Asa mengutarakan maksud kedatangannya. Diakui jika dia adalah anak kandung dari Sutis. Kedua mata wanita itu melotot, darahnya seakan berhenti mengalir, terkejut dengan siapa dia berbicara saat itu.

Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, Sutis berusaha mencari anak kandungnya. Hingga dia jatuh sakit dan putus asa. Kini, orang yang dicari ada di depan mata. Tak terasa air matanya bercucuran memandang keponakannya yang sudah dewasa. Dipeluknya Asa berkali-kali. Menahan rindu yang sudah hampir habis.

” Lihatlah, itu Ayah kamu. Dia lumpuh sejak kecelakaan sepuluh tahun lalu. Dia cuma tahu alamat rumah kamu yang lama. Saat pergi kesana, sebuah mobil menabraknya” Tunjuk Bi Ita pada seorang lelaki tua yang terbaring di atas kasur. Badan kurus kering dan matanya terpejam.

Degup jantung Asa terhenti sesaat mendengar cerita Bi Ita.

Air matanya benar-benar menganak sungai. Sesalnya kian membesar. Asa berlutut di tepi kasur, meraih punggung tangan ayahnya yang kaku. Dibisiki pada telinganya.

“Pak, cepat sehat kembali. Ini Asa, Maafkan Aku Pak, Maafkan anakmu yang dulu telah menabrakmu.” lirihnya.

#Cerpen #Fiksi

Dia Angkasa
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: