Asih, nama singkat dan sederhana yang diberikan Ibu. Bagiku, yang hidup pada masa milenial, tak ada yang menarik dari nama itu. Namun saat remaja, semua mengenal aku sebagai Asih, si gadis yang menolak masuk ke kamar berkain satin.

Asih dan kamar berkain satin
Gambar : Pexels

Setiap kali kudengar cerita tentang kamar itu, jantungku berdegup, kedua lutut melemas ,bulir keringat satu persatu jatuh di pelipis. Pikiran berkecamuk, rasa takut mendominasi pikiranku. Cita-cita yang ingin aku raih mendadak sirna.

Awalnya, kulihat tetangga seumuran yang terpaksa masuk ke kamar itu, lalu kehidupannya mulai berubah. Dia dikungkung oleh kewajiban yang tak aku pahami. Wajahnya yang ceria, bersih, bersinar dan penampilannya yang dulu terawat telah memudar. Tak ada yang lebih menakutkan bagi gadis di kampung daripada masuk ke tempat itu.

Kamar yang menjadi pertanda hilangnya kebebasan, ketika masih mencari jati diri. Hidup dekat bibir pantai, para lelaki memilih menjadi nelayan. Sementara perempuan, pilihannya terbatas antara bekerja menjadi TKI atau rela dinikahkan. Bahkan, yang sudah menikah pun akan menjadi TKI pada akhirnya. Tak ada pilihan yang baik. Dalam hati, aku selalu menolak memilih keduanya.

Di kampung ini, hanya aku yang bertahan untuk tidak memasuki kamar berkain satin.  Namun dua sahabat, Ela dan Desi  pergi meninggalkanku. Mereka lebih dulu masuk ke kamar itu. Ya, julukan itu sengaja kubuat, karena rasa kesal muncul saat kedua telinga menangkap sebutan kamar pengantin.

Masih teringat, ketika menemui mereka jelang pernikahan. Pertama kali, Aku memandang miris  sebuah ranjang. Saksi biksu akan kenangan indah sejak kami masih kecil hingga tumbuh menjadi gadis yang belum terlalu matang. Kini, ranjang  itu  tertutup oleh kain satin emas. Sisi kasur dipenuhi bermacam jenis bunga yang menguarkan wangi khas. Aromanya yang menusuk hidung malah membuatku semakin cemas.

Tak hanya itu, rambut kuncir kuda Ela dan rambut keriting Desi yang biasanya kulihat , diubah menjadi  sanggul berhiaskan ronce melati.  Polesan kosmetik yang katanya harus mangling, malah mengubah wajah mereka tampak lebih tua. Saat itulah aku sadar, mereka sudah tak bisa bermain bersamaku lagi.

Sepeninggal mereka, aku kesepian, kualihkan dengan membaca. Semakin hariku terasa kosong, semakin aku tenggelamkan diri pada setumpuk buku yang kudapat dari perpustakaan. Buku selalu jadi pegangan dimanapun berada. Bagi warga kampung, hal itu aneh. Semua orang selalu membicarakanku, karena menganggap aku tak sama dengan orang lain.

Menjadi remaja perempuan di kampung ini adalah hal buruk. Aku belum genap enam belas tahun, tak sedikit lelaki yang datang pada Ibu, memintaku untuk dijadikan istri.

“Bu, aku gak mau dinikahin?” jawabku pada Ibu suatu malam. Tangan ibu yang sedang mengaduk adonan donat seketika terhenti.

“Gak ada yang mau nikahin kamu, kok.” Jawab Ibu santai sembari mendekatiku. Aku mengembuskan nafas panjang, ada lega menyusup di tengah kekhawatiran yang tak reda.

“Aku sedih lihat Ela dan Desi, Bu. Baru juga kita ngerasain seragam putih abu, tapi kenapa sih udah buru-buru dinikahin?” ungkapku dengan nafas berat.

Aku akan jadi perempuan yang berprestasi dan mandiri.

“Jadilah seperti apa yang kamu mau, Sih.” Lirih Ibu seolah tahu isi hatiku. Kupandangi wajahnya, banyak tetangga mengatakan aku dan Ibu bagai kakak beradik.  Dari kisahnya dulu, Ibu pun harus menerima kenyataan dinikahkan pada usia yang masih belum matang. Meskipun, Ibu termasuk wanita beruntung mendapatkan suami baik. Kasih sayang mereka membuat aku dan kakak tumbuh menjadi sosok tegar, walaupun tak lama Ayah meninggalkan kami selamanya.

Azan ashar berkumandang menjadi tanda bahwa senja akan datang. Kunanti kakak dan Ibu pulang dari pasar, biasanya tak lama lagi mereka pulang. Sembari menunggu, kembali aku buka catatan pelajaran di sekolah dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Ibu Rumi, wali kelasku.

Entah, semakin aku berpikir menolak untuk memasuki kamar berkain satin, semakin aku berjuang menunjukkan diri untuk  berprestasi. Keyakinan menguat, prestasiku akan menjadi jalan agar aku bisa keluar dari kampung ini dan tidak dinikahkan seperti yang lain. Tidak lagi menyusahkan Ibu yang berjuang sendiri demi menghidupi kami. Pun dengan kakak, yang bekerja serabutan di pasar sambil membantu berjualan.

Pikiranku menerawang jauh, terngiang ucapan Ela beberapa bulan sebelumnya.

“Kamu harus jago ngomong inggris ya, Sih. Nanti, kita keluar dari kampung dan kuliah di luar negeri.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku terdiam mendengarnya kala itu seolah itu tak mungkin terjadi. Sesal muncul di hati, nyatanya keraguan itu jadi kenyataan ketika harapannya dihempaskan jauh oleh tradisi kampung. Padahal dia adalah siswa terpintar dan dia pula yang mengajarkanku bahasa Inggris.

Ah, aku akan pergi dari kampung ini!

Asih dan Kamar Berkain Satin
gambar : pixabay

Perlahan tapi pasti, prestasiku di sekolah membaik. Setiap hari aku berlatih, belajar bahasa inggris hingga kemampuan ku semakin meningkat. Seringkali Ibu Rumi memintaku mewakili sekolah untuk perlombaan bahasa inggris.

Suatu kali, aku merasakan berdiri di atas panggung mengharumkan nama sekolah. Seluruh penonton yang hadir terpukau oleh kemampuanku, tanganku bergetar tak percaya, saat menerima piala dan penghargaan. Selesai acara, seorang siswa dari sekolah lain mendatangiku. Mengenakan pakaian seragam putih abu, dan papan nama, baru kusadari, ternyata dia adalah lawan di perlombaan itu.

Dedi. Dia perkenalkan diri dan mengulurkan tangan. Wajahnya tegas, hidung bangir, Kulit sawo matang dan posturnya yang tinggi sedikit memunculkan perasaan aneh tak karuan. Dia tampak berbeda dengan teman laki-laki di sekolah. Debaran rasa membuat pipiku memerah. Bagaimana mungkin aku bisa merasakan rasa ini.

Sejak perlombaan, aku mulai dekat dengan Dedi. Dia datang mengisi rasa sepi setelah aku ditinggalkan kawan-kawan. Dia memang baik dan mendukung ambisiku. Dia pula yang membantu mencari informasi beasiswa agar aku bisa merantau selepas SMA.

Kekaguman padanya bertambah, banyak hal baru yang aku dapatkan bersamanya. Hingga suatu hari, kulihat Dedi bertandang ke rumahku, yang kuingat dia berjanji akan memberikan beberapa buku bahasa Inggris. Dengan semangat, aku segera menghampiri pintu dan membukakannya.

Namun, terselip tanya besar dalam hati ketika di depan mata kulihat dia datanga tak sendiri. Apa yang aku rasakan, rasa sesak muncul di dadaku, tak mampu tutupi rasa kecewa saat melihat kedatangan dia dengan kedua orang tuanya.

Bagai sambaran petir, dugaanku ternyata benar. Pada malam itu, tidak ada buku yang dia janjikan, entah dia sengaja atau tidak.  Ternyata, Dedi datang bukan untuk itu. Terbesit keinginan besar Dedi untuk menjadikan aku miliknya, dia pun datang untuk melamar.

Memang tidak mudah menjalani hidup sebagai remaja di kampung ini, karena bagai kembang yang baru kuncup semua warga tak sabar untuk memetiknya sebelum bunga bermekaran. Maka nyaris tak ada perempuan yang lolos dari kamar berkain satin itu.

Kini, aku memandang diri di depan cermin. Tak tampak wajah bocah disana, polesan kosmetik telah mengubahku seperti orang dewasa. Linangan airmata menganak sungai sulit untuk dihentikan. Batin meronta, aliran darah memanas hingga membuat wajahku memerah. Kupandangi sekeliling kamar, kamar kesayanganku telah berubah tertutup oleh kain satin. Sayangnya, aku tak bisa berbuat banyak.

Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Tak lama, muncul Ela dan Desi ke dalam kamarku. Melihat mereka masuk, seketika bulir airmata tak tertahan lagi, bagaimana mungkin aku akhirnya berada dalam kamar berkain satin seperti mereka dahulu. Dalam tangis dan diam pikiran berkecamuk hingga tak mampu berkata-kata.

“ Pergi, Asih! Jadilah seperti yang kamu mau.” Ela mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan padaku. Disusul anggukan dari Desi,yang tengah berbadan dua. Aku menggeleng keras.

“Gimana Ibu dan Kakak? Aku gak bisa.” Lirihku dengan airmata yang kian deras.

Mereka diam tak menjawab, hanya isakan tangis yang terdengar.

“Ganti baju dan pergi, Asih. Merantaulah, semua akan baik-baik saja.”

Ucapan terakhir Desi terus terngiang. Menghapus ragu dan takut yang berbisik. Dengan berat hati, akhirnya kutinggalkan kampung itu. Tapi, aku berjanji akan kembali membawa kebanggaan untuk mereka yang kusayangi.

 

#Cerpen #Fiksi #ODOP #OneDayOnePost

Asih dan Kamar Berkain Satin
Tagged on:             
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: