Beberapa waktu lalu, di kelas materi komunitas ODOP. Aku mendapat ilmu tentang menulis untuk menyembuhkan.

Maka, untuk kali ini aku ingin mempraktikkan ilmunya dengan menulis pelajaran dari hidup yang aku jalani belakangan ini.

Baiklah, mari kita mulai.

Selalu ada jendela yang terbuka ketika pintu tertutup.

Masa pandemi menjadi masa aku ‘terpaksa’ belajar banyak hal bagaimana caranya untuk berdamai dengan keadaan. Bagaimana tidak, pandemi kali ini menjadi ujian bagi semua orang termasuk ujian dalam kehidupan keluargaku.

Jujur aja, aku gak pernah menyangka ada hal semacam ini terjadi yang bisa merubah kehidupan semua orang di seluruh dunia. Ini benar-benar kekuasaan Allah SWT.

Awalnya aku selalu berpikir positif dengan semua ini. Namun, masalah demi masalah mulai datang tanpa henti. Pikiran positif yang aku tanam pun mulai goyah.

Bermula di awal tahun, ujian pertama datang saat suami harus berhenti kerja. Walaupun, memang rencananya tahun ini kami memutuskan untuk mulai usaha. Tetapi, aku sendiri tidak menyangka kalau hal itu bisa terjadi lebih cepat. Saat sebetulnya kita belum punya persiapan.

Sebulan sebelumnya, kami berencana untuk kembali pindah ke Jakarta.

Suami mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik, tempat dan tantangan yang lebih menantang.

Aku pun sudah mempersiapkan diri mencari-cari tempat tinggal untuk kami ketika nanti suami pindah. Menguatkan mental anak untuk kembali beradaptasi pada situasi baru nanti. Hingga dimana Shalu akan sekolah nanti. Semua hal sudah dipersiapkan dengan baik.

Namun, di luar dugaan akhirnya suamiku tidak jadi pindah ke Jakarta karena ada alasan tertentu. Semua rencana ambyar..

Baiklah, kami mulai usaha aja. Karena tempat kerja yang sekarang tidak kondusif untuk suami bekerja dengan baik. Tepat di bulan Maret akhirnya kami memilih berwirausaha secara full time.

Jangan tanya, persiapan apa yang kita lakukan untuk berwirausaha. Semua mengalir begitu aja. Dengan bismillah, aku dan suami mulai usaha kuliner online Ayam Bakar dari rumah. Modal seadanya, kami coba sedikit demi sedikit. Yang penting berkah, begitulah yang kami pikirkan.

Ayam Bakar Kang Oni
Inilah produk yang lahir di masa pandemi. @ayamkangoni rasa spicy

Alhamdulillah, semua berjalan lancar sedikit demi sedikit. Semakin kesini, respon Ayam Bakar Online kami disambut baik oleh para pelanggan.

Dari yang tadinya pesan satuan hingga ada pula yang pesan puluhan box, hal itu membuat kami makin bersemangat. 

Tiba-tiba saja pandemi melanda, usaha kami yang masih bayi mulai menemukan kendala. Ujian kedua mulai kami rasakan. Pembeli menurun, pernah tiga hari, tidak ada yang order sama sekali.

Aku mulai khawatir dengan kebutuhan kami ke depannya. Terlebih, modal tidak bisa kembali lagi jika Ayam tidak ada yang beli. Jujur aja, rasanya sedih. Gak jarang di awal aku suka menangis ketika jualan hari itu belum laku.

Ya, bagi seorang istri yang terbiasa menerima pendapatan dari gaji per bulan. Situasi seperti itu cukup membuat tertekan. Kalau bukan karena ketenangan dan kekuatan suami. Tentu aku sudah sangat depresi menghadapi kenyataan.

Banyak orang lain yang lebih susah dibanding kita

Itulah yang sering suamiku ucapkan kala aku sedang down. Di luar sana, memang banyak orang yang mengalami kesusahan. Tentunya lebih-lebih dari apa yang aku alami.

Aku harus kuat menjalani ini semua. Orang lain, bahkan ada yang sampai tidak makan seharian. Sejak saat itu, setiap harinya aku bisa makan, aku merasa selalu bersyukur.

Untuk menghindari rasa putus asa yang berkepanjangan dan menjaga pikiran tetap positif. Ucapkan kalimat ini berkali-kali dan melepaskan semua beban,

La Haulaa wa laa quwwata illa billah

Tiada ada daya upaya selain kekuasaan Allah. Seakan menjadi pengingat dan penguat mental. Semua yang terjadi saat ini memang harus aku hadapi.

Selama kami berusaha, Allah SWT pasti akan melihat perjuangan kita dan memberikan hasil yang terbaik untuk umatnya.

Semua hal yang terjadi di dunia adalah seizin-Nya. Jadi jika saat ini kita sedang berada di bawah, itu terjadi atas izin Allah SWT. Alih-alih kita merasa terpuruk lebih baik berhusnudzon pada Allah. Karena hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kita. 

Maka, sekarang aku memilih berdamai dengan keadaan.

 

Yang Aku Pelajari Di Masa Pandemi
Tagged on:                         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

2 thoughts on “Yang Aku Pelajari Di Masa Pandemi

  • Avatar
    September 30, 2020 at 11:22 am
    Permalink

    Aku sering lihat fotonya bikin ngiler, sayangnya jarak yang memisahkan. Masya Allah ceritanya membuatku untuk berdamai dengan keadaan.

    Berkah usahanya mba.

    Dengan menulis melegakan kegundahan hati, meringankan beban pikiran dan menangkan emosi.

    Reply
    • Nurul Afiati
      September 30, 2020 at 8:09 pm
      Permalink

      Makasih mba novia sudah baca tulisan ini. Aamiinn doa yang sama untuk mba sekeluarga semoga berkah sehat dan berlimpah rezekinya aamiinn

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: