Dua tangan itu tampak sama, namun sebetulnya berbeda. Tangan yang membawa manfaat untuk orang lain akan terlihat bercahaya dibanding tangan manusia kotor yang melakukan perbuatan keji.
Herman, manusia yang terkenal akan kedua tangannya yang membawa berkah. Setiap orang seakan ingin menyentuh tangan dan menyalaminya. Mendapat berkah dan rezeki berlimpah dari kedua tangannya. Seluruh desa percaya akan kekuatan itu. Pernah saat kemarau panjang, Herman mencangkul sebuah ladang yang kering. Namun beberapa saat kemudian, ladang itu memancarkan air layaknya kaki kecil nabi ismail yang mengeluarkan air zamzam. Heboh, tentu saja.
Lalu, jika Herman mendatangi pedagang di pasar, pedagang itu akan dikerubungi pembeli setelah Herman belanja di tempat itu.

Tak sampai disitu, dua tahun yang lalu, Herman menjenguk seorang tetangga yang hampir kritis. Entah kekuatan dari mana dia dapatkan, setelah Herman menjenguknya, tetangga yang hampir kritis itu perlahan pulih dan sembuh.  Betapa berkahnya kedua tangan Herman. Lantas, jadilah dia orang yang dihormati di kampungnya.

Diantara orang yang percaya, tetap terselip orang yang tidak suka dengan Herman. Sahabat kecil Herman bernama Dikdik, tak percaya dengan kemampuannya. Merasa Herman tak memiliki keistimewaan apapun. Baginya, itu semua hanya karangan agar dia bisa mencari duit dari karangannya itu. Meski, tak satu pun yang percaya pada Dikdik. Toh, Dikdik terus berupaya untuk menjatuhkan citra Herman.

Keberuntungan Herman tak berlaku untuk kisah cinta. Berkali-kali dia gagal menikah oleh sebab yang tak jelas. Pada usia 35 Tahun, dia masih melajang saja. Bukan tidak mau, justru banyak pula wanita yang menaruh hati. Hanya saja, setiap akan menikah, selalu saja gagal. Pada akhirnya, Herman tetap sendiri.

Diam-diam Desi, istri dari Dikdik menyimpan rasa pada Herman. Begitupun Herman, yang masih ada sedikit cinta untuk Desi. Mereka berdua pernah menjalin kasih, namun tak jadi menikah. Tak berapa lama, Desi memilih untuk menikah dengan Dikdik. Hingga itulah penyebab ketidaksukaan Dikdik pada Herman.

Pagi ini udara sore mengigit kulit, angin meniup tengkuk leher yang berhasil membangkitkan rasa gemetar karena dingin. Desi membawa belanjaan tiga kantong besar, dan agak sedikit kerepotan. Tak jauh dari sana, Herman memandanginya. Ada keinginan berdesir untuk membantu, namun dia tahu, agar tak terjadi fitnah lebih baik Herman diam saja. Masih teringat jelas, saat hantaman lengan Dikdik mendarat di wajah Herman dulu. Merah memanas dan seketika wajahnya menjadi lebam. Tak sengaja Herman bertemu di jalan dengan Desi, karena searah jalan pulang, dia mengantar Desi ke rumahnya. Dikdik marah membabi buta melihat istrinya diantar pria lain.

Di jalan besar, sebuah truk melewati jalan dengan kecepatan tinggi, Desi tak melihat dan akhirnya dia terserempet dan jatuh mencium aspal, darah segar keluar dari batok kepalanya. Herman terkejut dan berlari ke arah Desi, dia melihat tubuh Desi yang terkapar dengan rasa penyesalan yang dalam. Tanpa berpikir panjang, segera dibawa olehnya ke rumah sakit dan meminta pihak rumah sakit menghubungi keluarga Desi. Akhirnya Herman memilih pulang, dan menutup rapat tentang peristiwa itu. Lebih baik jika tak ada seorang pun yang tahu jika dialah yang membawa Desi ke rumah sakit. Dalam hati dia selalu berdoa untuk kesembuhan wanita yang pernah dia cintai itu.

Sebulan sudah Desi koma di rumah sakit. Seluruh keluarga bergantian menjaga Desi, warga sekampung pun sudah menjenguknya kecuali Herman. Dia menyibukan diri dengan sawah yang sedang dia garap. Dia pun hanya tahu keadaan Desi dari hasil mencuri dengar warga sekitar.
Menuju makan siang, dia buka rantang berisi nasi pulen hangat dan tempe bacem. Saat ingin makan, pandangannya  menangkap kedatangan Dikdik siang itu. Dia berjalan menuju saung di tengah sawah. Wajahnya kuyu, mata sembab, tulang wajahnya tampak terlihat.

“Ada apa Dik ? Mau makan bersama ?” ajak Herman dengan tenang.
“Maafkan aku Herman.” Ucapnya lirih, matanya mengeluarkan bulir yang tertahan.
“Sudahlah, Dik. Sini makan dulu, jangan banyak pikiran.” Herman menepuk pundak Dikdik.
“Tidak, aku tidak lapar.” Ucapnya.”Tolong Man, pegang tangan istriku, aku berharap dia bisa sembuh.” Ucapnya agak putus asa.
Herman hampir tersedak oleh makanannya sendiri. Dia menggeleng.
“Kamu mulai percaya jika kedua tanganku bisa membawa berkah ?” tanya Herman menegaskan.
“Entah, aku hanya berusaha agar Desi sembuh,Man.” jawabnya sendu.
“Maaf Dik, aku tak bisa.” Tolak Herman. Seketika wajah Dikdik memerah, amarahnya mulai tumbuh kembali. Ingin rasanya memukul wajah Herman dengan kedua tangannya. Betapa sombongnya dia, pikir Dikdik di hatinya.

“Kamu masih marah padaku ?” Ucapnya setengah emosi. Herman tak menjawab, dia gelengkan kepalanya.

“Lalu, apa ? Bukannya kamu masih suka dengan istriku ? Memangnya, aku tidak tau.” Ungkapnya dengan nada sinis. Herman hanya menghela nafas panjang lalu berhenti makan. Dia cuci kedua tangannya pada air keran dekat saung. Tak lupa, dia basuh mukanya dengan air. Diucapkannya bismillah agar mampu mengelola hatinya di hadapan Dikdik. Diminum segelas air bening hangat yang tersaji, lalu menatap Dikdik tajam.

“Tidak akan berkah, seseorang yang menyentuh tangan orang yang bukan muhrimnya.” Ucapnya pada Dikdik.

Dikdik terdiam, mukanya memerah, nafasnya perlahan melambat. Lalu, dia pergi tanpa kata sedikitpun.

 

#OneDayOnePost #Cerpen

Tangan Pembawa Berkah
Tagged on:     
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: