Halo, ada yang fresh nih dari postingan kali ini. Untuk pertama kalinya, aku akan mereview dua buah film yang bikin penonton emosi. Baca sampai selesai ya..

Bulan Agustus lalu, berseliweran gambar wajah Bu Tejo di beberapa media. Bahkan, stiker nyinyinya sering dikeluarkan dalam grup-grup komunitas.

Awalnya, aku kurang paham apa yang membuat Bu Tedjo ini menjadi seviral itu. Eeeh, ternyata pas lihat film Tilik, mendadak aku pun jadi sebel, Haha..

Sebagai perempuan yang sekarang sudah jadi ibu-ibu, aku pun suka naik darah kalau ketemu ibu-ibu model begitu, hihi..

Ada yang belum lihat resenya Bu Tejo? Tonton dulu ya, biar seru bahasnya.

TILIK

Sudah ditonton?

Apa yang terasa? Ngakak, gemes, kaget jadi satu gak, sih?

Sayangnya, aku gak ngerti bahasa Jawa. Jadi harus baca teksnya supaya paham apa yang dibicarakan. Hebatnya, film ini ternyata memenangkan PIALA MAYA 2018 dengan kategori film cerita pendek terpilih. Disutradarai oleh Wahyu Agus Prasetyo. Menjadikan Ibu Tedjo sebagai tokoh sentral, cukup membuat penonton terhibur.

Dalam bahasa jawa, ’tilik’ artinya menjenguk. Awal cerita pun mengisahkan perjalanan ibu-ibu yang ingin menjenguk ibu lurah. Berangkat dengan truk terbuka, para ibu-ibu ikut di belakang truk dan berdiri sepanjang perjalanan. Seperti biasa, selama perjalanan, Ibu-ibu mulai melakukan aktivitas bergosip, kehadiran Bu Tejo, menambah panas acara pergosipan itu.

Berdasarkan pengamatan Bu Tejo di media sosial, seorang bunga desa bernama Dian menjadi topik utamanya. Dian, dikabarkan senang menjalin hubungan dengan Om-Om.

Tokoh lain yang bernama Yu Ning, menjadi tokoh protagonis yang membela Dian. Disini, Yu Ning tidak setuju dengan semua hal buruk yang dibicarakan oleh Bu Tejo. Karena Yu Ning adalah teman dari Dian. Sepanjang film kita dibuat penasaran dengan sosok Dian. Juga, kesal dengan mulut Bu Tejo, haha..

Apa yang membuat TILIK meraih penghargaan?

Jalan cerita dalam film pendek ini related dengan keadaan masyarakat Indonesia. Ditambah dengan bahasa jawa yang digunakannya, film TILIK kental akan unsur lokalitas.

Yang paling menarik adalah dialog dan ekspresi dari seluruh pemeran dibuat sangat natural. Sehingga penonton terbawa emosi oleh peran yang dimainkan oleh Bu Tejo ini.

Bagi yang memahami bahasa jawa mungkin akan sedikit tertawa dengan dialog yang ada. Karena unsur komedinya pun terselip pada di sana.

Pemeran utama dan pendukung dalam TILIK melakukan peran dengan sangat baik.

Plot twist menarik di akhir cerita, aku dibuat kecewa ternyata gosipnya ibu yang rese seperti Bu Tejo itu terbukti benar. Padahal dari awal, aku merasa ada di posisi yang membela Dian.

 

Cream (2017)

Film pendek selanjutnya yang akan aku ulas adalah sebuah karya dari David Firth. Sekilas menonton film kartun ini, aku menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Tentang bagaimana usaha sebuah perusahaan dalam memasarkan produknya. Namun, setelah menonton berulang kali, ternyata ada pesan lain yang ingin ditunjukkan. Apa itu? Baca tulisan ini sampai selesai ya.

Tetapi, tonton dulu aja deh filmnya supaya nyambung.

Ceritanya tentang apa?

Dr Bellifer adalah seorang ilmuwan genius yang telah mengeluarkan sebuah produk keajaiban dengan teknologi mutakhir. Disebut-sebut sebagai krim yang mengatasi semua masalah di dunia.

Awal cerita, menunjukkan bagaimana krim itu ampuh membuat wajah seorang wanita yang rusak menjadi mulus kembali. Lalu, wajah pria yang rusak hidungnya, tak lama wajahnya sempurna dengan hidung yang utuh. Penonton dibuat terpukau dengan kehebatan produk itu.

Percobaan berikutnya pada orang yang mengalami cacat fisik, tangannya hilang satu. Diolesi krim, tangan yang hilang pun tumbuh kembali dengan cepat. Sang penemu menjelaskan tentang bahan dari krim yang mampu meregenerasi setiap kerusakan dalam waktu singkat. Entah itu, kerusakan pada benda mati atau benda hidup. Orang yang alami gangguan mental akan menjadi normal. Bahkan, benda rusak akan baik kembali. Mobil yang rusak berubah menjadi mobil mewah. Yang paling menakjubkan orang yang sudah mati, langsung bisa hidup kembali.

Sesuatu yang tidak mungkin terjadi tapi nyatanya terbukti bisa terjadi. Dengan pembuktian tersebut, otomatis krim itu dibeli semua orang di dunia. Dan digunakan secara masif. Namun pembuatan krim membutuhkan waktu enam bulan. Lalu, Dr. Bellifer menunjukkan krim itu mampu menduplikasi saat krim dioles ke tempatnya.

Sesuai tagline The Everything Fixer, krim ini benar-benar memperbaiki segalanya. Bahkan mampu menduplikasi.

Keadaan membaik karena hadirnya krim itu. Seluruh dunia merasakan kesenangan dan kebahagiaan.

Sayangnya itu tak bertahan lama. Muncul berita negatif tentang produk itu, dikatakan bahwa krim dibuat dari bayi manusia, dapat menyebabkan AIDS, kanker dan menyebabkan 4000 kematian.

Berita yang menggemparkan lainnya adalah terkuaknya Dr. Bellifer yang ternyata adalah seorang pemerkosa. Serentak, amukan massa di seluruh dunia memicu pemusnahan krim. Orang-orang marah dan membakar krim-krim yang tersisa.

Dr. Bellifer masuk penjara.

Persamaan TILIK dan CREAM

Jika mau lebih teliti, tahukah apa yang dibahas dalam kedua film ini?

Dalam film Tilik, Bu Tejo terus menerus menggiring opininya hingga semua ibu-ibu percaya dengan gosip yang disebarkan.

Sementara film Cream, ada scene ketika para orang kaya saling menghubungi satu sama lain sebelum berita buruk itu beredar luas.

Menurutku, kesamaan itulah yang mendasari konflik dalam kedua film tersebut. KONSPIRASI.

TILIK menggambarkan konspirasi yang dibentuk individu untuk membuat berita negatif berdasarkan kabar dalam media sosial.

CREAM menunjukkan konspirasi yang dibuat untuk menjatuhkan popularitas dan keberhasilan produk krim yang mendunia. Ada sebagian orang kaya yang terganggu dengan kehadiran produk itu. Mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan karena semua orang dapat mengatasi kelemahannya dengan menggunakan krim itu.

Dibuatlah berita negatif yang masif tentang krim. Sang penemu krim pun dimasukkan ke penjara dan tidak diizinkan untuk menginjakan kakinya ke laboratorium.

Setelah krim musnah dan ilmuwannya ditangkap. Kompetitornya membuat produk serupa dengan nama new cream. Yang digadang-gadang mampu memberikan manfaat yang sama namun tidak memiliki efek samping.

Sudah nonton Filmnya?

Itulah yang bisa aku tangkap mengenai kedua film di atas. Jadi, gimana menurut kamu?

Share dong ya di kolom komentar.

 

#ODOP #OneDayOnePost #ODOPChallenges2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Film Tilik dan Cream Bahas Isu Sosial yang Bikin Emosi Penonton Naik
Tagged on:                     
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: