Sebuah besi tua berkarat teronggok di dinding depan pintu rumah kayu Bapak. Tak ada lagi yang mengelapnya, memberi oli pada rantainya, memandikan sepeda layaknya memandikan seorang anak kecil. Sepeda ontel itu tak sehidup dulu ketika bapak ada.

Kedua roda yang sudah amat tipis, tetap kokoh mengantar setumpuk pakaian yang sudah rapi ke rumah para pelanggan. Dengan dibonceng bapak, aku membawa plastik hitam besar berisi bakul yang dipangku di atas paha. Badanku yang kurus, kecil, menahan dan menjaga agar pakaian itu tetap rapi. Jika melewati jalan penuh kerikil, kupegang erat jaket lusuh bapak agar tidak jatuh.
Setiap hari sebelum ayam jago tetangga berteriak, kami sudah menembus dinginnya fajar. Bapak yang hanya  mengajar di SD sebagai tenaga honorer, menyambi sebagai buruh cuci dan setrika di waktu sore dan malam.

Pernah suatu ketika saat aku sakit, sementara gerimis terus membasahi jalan di kala fajar. Bapak tetap mengayuh sepedanya, sendiri mengantar pakaian yang dibungkus dengan plastik. Tubuhnya ditutupi plastik besar yang dilubangi pada bagian kepala, dan tangan. Lalu, ketika pulang bapak bawakan bubur ayam dan obat warung. Tak terasa, airmataku bercucuran menahan haru saat itu. Demi bapak tak hentinya bibir mengucap doa agar aku segera sembuh dan kembali membantunya.

Aku hanya hidup dengan bapak. Ibu sudah lama meninggal saat aku masih sangat membutuhkan ASI. Meski saat masih kecil, aku sering dititipkan pada Bibi Ati, adik kandung bapak. Namun aku selalu merasa nyaman jika sedang bersama bapak. Lebih baik aku menderita asalkan bersama.

Hati kecilku berjanji akan membahagiakan bapak saat aku sudah dewasa. Itu yang membuat semangatku membara untuk menjadi sukses.

Lima belas tahun berlalu, aku berjalan menuju besi tua yang seakan mati seiring kepergian sang empunya. Kuamati setiap detil sepeda itu. Banyak kenangan yang tersimpan bersama sepeda tua kesayangan bapak. Kedua ban mengempis karena lama tak dipakai. Besinya berdebu dan kotor bagai pria tua pesakitan yang sudah rapuh.

Aku sudah sedikit dewasa, Kembali ke rumah kayu tua yang sudah tak jelas bentuknya. Usang dimakan waktu. kepergian bapak membuat keinginanku merantau semakin besar kala itu. Dengan tekad kuat, aku coba merantau dengan berbekal kecerdasan. Meski miskin, Allah berikan kelebihan pada otak sehingga aku terpilih mendapat beasiswa untuk bersekolah di kota.

Sebuah amplop putih panjang, berisi beberapa lembar uang kusimpan rapi di dalam tas. Jika bapak masih ada, dia akan bangga melihat anaknya sudah bekerja. Aku tak pernah lupa akan janjiku, membahagiakannya saat aku sukses. Aku kembali untuk memberikan gaji pertamaku untuknya.

Alhamdulillah, De. Semoga kelak berkah ya rezekimu, dikasih istri yang sholeha.”

Aamiinn Pak, terima kasih doanya. Saya infaq atas nama almarhum Bapak Karta, Pak.”

Iya, De. Mari kita doakan bapakmu. Bismillahirrahmanirrahim….”

Untaian doa bagai menguar ke semesta menuju langit biru yang terang oleh cahaya mentari. Usai berdoa, segera aku berpamit untuk pulang pada Pak Anto. Seorang pria paruh baya, yang sudah lama menjadi marbot musala dekat pemakaman.

” Pak, semoga bermanfaat. Lumayan bisa dipakai untuk aktivitas sehari-hari.” Ucapku pada pak Anto sebelum berpisah.

“Terima kasih,De. Insya Allah Bapak rawat sepedanya baik-baik.” Jawabnya dengan wajah senang.

Kuserahkan besi tua berkarat yang telah berganti rupa. Mengkilat dengan warna hitam yang baru. Bannya sudah berganti lebih kokoh dan tebal . Ada rasa sedih berdesir saat melepas sepeda itu. Kenangan dengan bapak melekat disana, tapi aku tahu benda itu akan bahagia jika bermanfaat. Kini, sepeda itu akan membuat kenangan bersama pemiliknya yang baru.

 

#cerpen #onedayonepost

Dua Roda Besi Tua Beserta Kisahnya
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: