Berdiri seorang gadis dengan tatapan lurus pada ujung tepian garis air laut. Tak peduli embusan angin membuat rambutnya terlihat tak beraturan dan dingin menyapu kulitnya.

Bunyi ombak yang menabrak karang, menyadarkannya dari lamunan panjang. Dio, cowok yang tak pernah bisa diam itu hari ini terkena musibah. Motornya diserempet mobil dan terluka cukup parah.

Ingin rasanya Lana datang melihat keadaannya. Tapi, dia ragu. Takut seluruh teman-temannya berprasangka atas kedatangannya. Dio dan Lana sudah sejak lama saling memendam rasa.

Tak ada yang tahu bahwa di sela-sela jam pelajaran, mereka pernah bahkan sering saling bertukar pandang. Sepersekian detik mata keduanya beradu dan menimbulkan gesekan di hati mereka. Lalu mereka bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa. Tak ada yang tahu, tak ada yang mampu menangkap sinyal cinta mereka. Tak terkecuali Kinan, teman sebangku Lana.

Sungguh, tak ada yang lebih menggemaskan dari cinta malu-malu. Mungkin ini kesempatan bagi Lana mengempaskan rasa rindu yang menggebu. Sudah lebih dari seminggu, Dio masih terbaring lemah di Rumah sakit. Hanya Lana, yang belum menjenguknya. Tak terbayang bagaimana dia menahan cemas, rindu dan takut secara bersamaan.

Aku harus melihat Dio.

Ucapnya meyakinkan diri. Segera setelah berganti pakaian sebanyak 4 kali. Barulah Lana merasa lebih percaya diri.

Kini, Lana berada di dalam sebuah lift menuju lantai 4 tempat Dio dirawat. Banyak pikiran berkecamuk dalam dirinya. Lebih utama tentu saja rasa malu. Kerinduannya sudah tak terbendung. Hingga tak terasa kedua kaki sudah berada di depan pintu kamar serba putih, mendadak rasa canggung menyeruak.

Baru teringat setidaknya dia mengajak Kinan. Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin dia kembali hanya untuk mengajak teman.

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam.” seorang wanita tak terlalu muda dengan wajah persis Dio menyambut kedatangannya.

Lana tampakkan senyum senatural mungkin, meski kegugupan masih bergelayut dalam pikiran. Dia cium punggung tangan wanita itu sebagai tanda hormat, karena dia tahu itu ibunya Dio.

“Tante, kenalkan saya Lana.”
“Lana, baru sempat datang ya. Dio sudah hampir seminggu nanyain. Ternyata, tante baru tahu, kamu yang namanya Lana.”

Seketika Lana dibuat kikuk, sambil menoleh ke arah Dio, yang tertidur. Entahlah mungkin pura-pura tidur. Keberanian mulai menyusup.

“Oiya tante, maaf.. Kemarin ulangan terus jadi baru sempat kemari.”
“Boleh titip sebentar Lana, tante mau ke kamar mandi dulu.”
“Baiklah tante.”

Lana mendekati sisi tempat tidur Dio, memperhatikan wajahnya yang sudah lama tak terlihat. Lumayan, rindunya agak terobati. Luka di tubuh Dio pun tampak semakin membaik.

“Kesini sendiri ? ” tiba-tiba Dio terbangun dan suaranya membuat terkejut.


“Iya, tadi mau bareng Kinan. Tapi dia gak bisa.” otaknya secepat kilat mencari alasan.


“Kinan, tadi udah kesini, sebelum lo.” Deg jantungnya berdegup ketahuan beralasan.


” By the way, makasih udah dateng. Harusnya dari kemarin-kemarin.” ucapan Dio agak ketus namun sebetulnya melegakan.


” Sama-sama.” jawab Lana singkat. Entah apalagi yang harus dia katakan pada Dio. Yang terpenting hatinya kini terasa lebih lega dan bahagia setelah melihatnya.


” Dio, gue pulang dulu ya..”hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Lana.


” Lana, jadi pacar gue mau gak ? “bagai kepiting rebus yang baru diangkat dari panci panas. Muka memerah menahan malu, kaget dan mungkin senang. Entahlah Lana terlalu naif merasakan naik turun detak jantungnya sendiri karena cinta pertama.

Tak kuasa menjawab, Lana malah pergi dari ruangan itu dengan mesem-mesem. Ditinggalkannya Dio yang bingung keheranan. Bagi Dio, ini pertama kalinya dia merasakan digantung. Digantung perasaannya oleh seorang cewek.

#Onedayonepost #Cerpen #CintaMaluMalu

Cerpen Berjudul Cinta Malu-Malu
Tagged on:         
Nurul Afiati

Nurul Afiati

Hai, it's me. Seorang ibu dari dua anak super aktif. Penulis, blogger dan penikmat kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: