Hadiah dari Hujan, Cerita Pendek

Hadiah dari Hujan, Cerita Pendek
CERPEN judul hadiah dari hujan
Hadiah dari Hujan

Sebentar melongok ke arah jam dinding berdebu yang menempel di dinding warteg. Sebentar kemudian, memandang jalan yang kini persis aliran sungai.

Pikiran dan hati berkecamuk. Dia harus berlindung tetapi saat kedua matanya mengarah pada sebuah bungkusan istimewa, tekadnya menguat.

Besi tua beroda dua tersiram oleh bulir hujan yang sudah sebesar jagung. Sepeda itu seakan memintanya untuk melanjutkan jalan pulang, meski hujan tak menampakan akan usai.

Terbayang, rengekan suara gadis kecil meminta mainan seperti yang dia lihat dari teman-teman sebayanya. Awalnya gerah, Namun setiap hari raungan itu menggema, membuat kedua telinga Rapto terbiasa. Hingga rengekan itu perlahan tak terdengar lagi, mungkin si gadis yang sering dikuncir kuda itu tahu, keinginannya tak kunjung jadi kenyataan.

Namun, dalam diam. Rapto mengumpulkan sedikit demi sedikit uang. Waktu yang cukup lama baginya untuk mewujudkan keinginan si anak. Hari ini terbayar, sebentar lagi. Bayangan dari pancaran senyum girang Lina nanti saat menerima hadiah ini, terlintas dalam bayangan Rapto.

Mengumpulkan segenap kekuatan, segera dia terobos pukulan air hujan yang menyentuh punggungnya. Dikayuh sepeda tua itu menempuh air yang sudah mencapai mata kaki.

Dingin, sakit tak dia hiraukan. Di depan matanya hanya terlintas senyuman anak cantiknya itu.

Tak seperti biasa, jika dulu semasa kanak-kanak, hujanlah yang membuat dia bahagia. Ditambah, Tahu goreng panas dan teh manis buatan Ibu menjadi pelengkap bahagianya.

Namun, sekarang berbeda. Tak ada yang lebih penting dari kebahagiaan anaknya. Pikirannya menerawang jauh diantara celah hujan. Entah, dia merasakan sebuah firasat saat itu. Tak tahu apa, rasanya dia harus segera sampai di rumah. Pikirannya sudah bermacam-macam.

Sudah seminggu, Lina batuk dan sesak nafas. Rapto membawanya ke puskesmas, namun tak kunjung sembuh.

Sebelum dia berangkat subuh tadi, salah satu tetangga yang bekerja sebagai perawat berkata, dia harus dibawa ke rumah sakit terdekat. Karena paru-paru basahnya sudah parah. Apa daya, kedatangannya ke rumah sakit tak disambut baik oleh karena tak memiliki biaya.

Dengan berat, dia hanya merawat Lani yang malang itu seadanya.

Air hujan menerpa wajahnya yang sudah penuh kerutan. Kayuhan sepeda semakin menguat. Sudah hampir dekat rumah, hingga laju sepedanya terhenti. Tidak tepat di depan pintu rumahnya, tetapi di depan sebuah gang kecil. Dipegangnya hadiah itu sekuat tenaga.

Dahinya mengerut, dingin yang tertahan mendadak memenuhi seluruh tubuh Rapto. Bahunya bergetar, kedua lengannya pun sama. Menggigil dingin seketika.

Halaman rumahnya sudah disesaki warga meski hujan terus mengguyur mereka semua. Seluruh orang menatap pedih Rapto yang terpaku di bawah guyuran hujan.

Tanpa penjelasan mereka, dia sudah tahu. Tanpa tatapan iba dari wajah mereka dia sudah tahu. Tanpa isakan tangis istrinya dia sudah tahu. Tanpa melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah pun dia sudah tahu. Firasatnya benar.

Hujan hari ini mewakili air matanya yang terus dia tahan. Kembali diremas hadiah itu hingga rusak kertas pembungkusnya. Dia tahu, bahwa dia sudah terlambat.

Samar-samar terdengar suara anak bungsu kesayangannya berbisik.

“Terima kasih Ayah, hadiah terakhir darimu. Aku suka ….”

Dia memandang sebuah cahaya dari atas atap rumahnya, cahaya itu pergi menjauh menuju langit mendung dan hilang diantara awan hitam.

 

#OneDayOnePost #ODOP #Cerpen



1 thought on “Hadiah dari Hujan, Cerita Pendek”

Leave a Reply