Selain Kesehatan Mental, Inilah 5 Alasan Kenapa Harus Menulis

July 6, 2020 By Nurul Afiati

This Post for people who search 'alasan menulis' on google

“I learned the enormous power of writing for yourself, especially now that people seem to be receptive to the fact that women can write.” ~ Maya Rudolph

Menulis terbukti membuat mental lebih sehat.

Itulah manfaat pertama yang aku rasakan dari menulis. Meskipun sejak lama suka nulis, tetapi mulai konsisten setelah melahirkan anak pertama.

Dulu, aku sempat mengalami baby blues syndrome.  Kelelahan, kurang tidur dan belum terbiasa dengan pola hidup bersama bayi jadi pemicu. Belum lagi saat suami selesai cuti, waduh rasanya kepingin nangis bombai.

Hati kecil sering berkata, BISA! BISA! 

Berharap mampu mengurus bayi sendiri, dari mulai kegiatan domestik rumah tangga sampai dengan mengurus anak. Namun baru tiga hari, badan rasanya remuk, mata panda membesar dan sepet.

Ternyata, jam tidur bayi yang lebih banyak bangun saat malam buat aku kurang tidur. Hingga aku menyimpulkan pada diri sendiri kalau aku gagal menjadi ibu. Ya, seberlebihan itu.

Pertama kali memiliki anak adalah pengalaman yang luar biasa. Bukan hanya tenaga, pikiran pun terkuras untuk mengasuh anak. Mendadak bertemu pola hidup baru dan aku belum mampu untuk menyesuaikan diri.

Shock? udah pasti. Emosi pun berubah, tidak stabil.

Saat sedang tertekan itulah, aku terdorong untuk menulis. Awalnya sekadar coretan unek-unek di ponsel. Tapi saat ada waktu aku mulai menuliskannya pada kertas.

Banyak hal yang bisa ditulis seorang yang sedang tertekan. Emosi negatif yang ada dalam hati seperti dikeluarkan semuanya. Tanpa interupsi. Setelah menulis, aku mulai merasa lebih tenang.

Setelah membaca ulang hasil tulisannya, aneh aku malah merasa bersyukur. Melihat si bayi yang sedang tertidur malah buat aku makin bersyukur lagi. Alhamdulillah ternyata aku bisa melihat hikmah dari coretan emosi negatif yang sudah dikeluarkan itu.

Tanpa disangka, bahan untuk menulis malah semakin banyak. Pelajaran penting dari kejadian itu adalah aku menyadari bahwa tidak perlu aku menjadi ibu yang sempurna karena sampai kapan pun tidak akan bisa. Aku hanya berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, meskipun dengan segala keterbatasannya.

Sekarang tujuan menulisku bergeser. Dari yang hanya sekadar curhat, menulis malah menjadi media pengembangan diri.

Setiap belajar ilmu baru aku buat tulisannya, setiap membaca buku baru aku buat ringkasannya. Tentu dengan versi pribadi. Ternyata itu, asyik!

Berdasarkan pengalaman, setidaknya ada 5 manfaat yang bisa aku rasakan saat menulis.

1. Termotivasi untuk berkembang

Ketika pertama kali menulis, aku niatkan menulis untuk diri sendiri. Tidak peduli kaku, typo,atau topiknya kurang tajam. Fokus hanya pada apa yang dirasakan.

Perlahan, mulai ada keinginan untuk perbaiki tulisan. Apalagi menbaca tulisan para blogger yang kaya pengalaman, kaya informasi, dan selalu menarik dari awal kalimat. Alhasil, aku mulai ikut pelatihan menulis.

2. Berkomunitas

Setiap mengikuti pelatihan itu, akan ada komunitas baru yang terbentuk. Serunya, secara tidak langsung aku jadi ikutan beberapa komunitas.

Membentuk lingkungan yang saling mendukung dan satu visi itu asyik. Banyak ilmu baru yang bisa dipelajari dari tiap anggotanya. kadang saat sedang malas nulis, lihat postingan blog teman malah terpicu buat nulis juga.

3. Wawasan baru

Dari yang tadinya tidak bisa menulis fiksi, aku mulai mempelajari bagaimana menulis fiksi dengan menulis cerpen.

Bergabung pada salah satu kelas cerpen, aku mendapat wawasan baru mengenai dunia sastra dan belajar tentang karakteristik cerpen media.

Alhamdulillah, salah satu cerpen yang aku buat pernah memenangkan lomba menulis di komunitas. Efek menulis memang positif banget.

4. Emosi stabil.

Menjadi ibu baru dengan segala perubahan yang dialami ternyata tidak hanya terjadi pada diri kita. Di luar sana banyak sekali new mom merasakan hal yang sama.

Menulis seolah menjadi jembatan untuk aku mengekspresikan diri. Membaca tulisan dari pengalaman orang lain memberi pandangan baru dan tidak lagi merasa sendirian.

Dampak positifnya, aku lebih menguasai emosi, tanpa perlu mendengar omongan negatif orang lain. Fokus dan percaya saja dengan diri sendiri. Saat lelah ya istirahat, saat ingin me time, lakukan aja. Toh, kebahagiaan seorang mama itu sangat penting.

5. Penghasilan.

Menulis bisa menghasilkan itu benar. Sebagai bonus atas proses menulis yang dilakukan.

Nyatanya, tulisan yang bagus bisa dihargai pula loh.

Teringat ucapan dosen sewaktu kuliah dulu. Beliau pernah bilang,

Kamu bisa hidup dengan menulis

Dulu aku sempat mengernyitkan dahi, kurang paham ucapan sang dosen. Sekarang barulah mengerti, bisa hidup disini bukan soal bertahan hidup saja namun makna hidup yang lebih luas lagi.

Dengan menulis aku bisa menemukan jati diri, mengembangkan diri dan memaknai arti hadirnya diri kita di dunia.

Dari kelima alasan di atas, aku merasa sangat penting peran menulis dalam hidup. Beruntung aku diberi kesenangan dalam menulis. Karena dunia terlalu luas untuk kita nikmati sendiri, mungkin menulis akan jadi sarana kita berbagi pengalaman yang tidak mungkin dikecap oleh orang lain.

Jadi, apa alasan utama kamu menulis?

 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute